Mimpi Bukan Jalan Menuju Alam Semesta Paralel, Ini Penjelasan Pakar

Mimpi merupakan hasil aktivitas kompleks otak saat seseorang tidur.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 20 Juli 2026, 19:00 WIB
Ilustrasi mimpi, awan. (Photo by Jelleke Vanooteghem on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Pernah terbangun dari mimpi yang terasa begitu nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan? Tak sedikit orang yang mengaitkan pengalaman tersebut dengan dunia lain atau bahkan alam semesta paralel.

Namun, menurut Guru Besar Fisika Teori IPB University Profesor Husin Alatas, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mimpi merupakan akses menuju realitas lain. Mimpi justru dipahami sebagai hasil aktivitas kompleks otak saat seseorang tidur.

“Dari sudut pandang fisika-kimia, otak merupakan sistem kompleks yang terdiri atas miliaran neuron yang saling terhubung melalui sinyal listrik dan komunikasi kimiawi menggunakan neurotransmiter,” tutur Prof Husin.

Saat seseorang terjaga, maka otak secara aktif menerima, mengintegrasikan, dan memproses informasi dari lingkungan hingga membentuk persepsi mengenai realitas.

“Ketika tidur, aktivitas otak tidak berhenti. Justru pada fase rapid eye movement (REM), aktivitas beberapa wilayah otak mendekati kondisi saat terjaga. Pada fase inilah mimpi paling sering dan paling jelas terjadi,” ujar Prof Husin. 

Selama fase REM, otak memproses kembali pengalaman, emosi, serta ingatan yang diperoleh ketika terjaga. Hipokampus bersama jaringan korteks berperan dalam proses konsolidasi memori sehingga berbagai orang, tempat, maupun peristiwa yang pernah dialami dapat muncul kembali dalam mimpi.

“Otak juga memiliki kemampuan mengombinasikan berbagai fragmen memori dengan imajinasi secara kreatif,” kata Prof Husin mengutip laman IPB University, Senin (20/7/2026).

 

Alasan Mimpi Terasa Aneh

Prof Husin menerangkan, aktivasi spontan berbagai jaringan otak selama REM menyebabkan rangkaian peristiwa dalam mimpi sering kali tidak mengikuti logika kehidupan sehari-hari. Berdasarkan temuan neurosains, fenomena tersebut merupakan konstruksi internal otak. Kondisi ini yang membuat mimpi terasa aneh. 

Ia mengakui bahwa fisika modern memang mengenal sejumlah konsep mengenai kemungkinan adanya alam semesta lain. Salah satunya adalah interpretasi Many-Worlds dalam mekanika kuantum yang mengusulkan bahwa setiap kemungkinan hasil pengukuran kuantum terealisasi pada cabang alam semesta yang berbeda.

Selain itu, terdapat pula hipotesis multiverse dalam kosmologi yang berkembang dari teori inflasi kosmik.

“Meski demikian, kedua gagasan tersebut masih bersifat teoretis dan belum memiliki bukti observasional langsung. Hingga kini juga belum ada teori fisika yang menghubungkan aktivitas otak saat bermimpi dengan akses menuju alam semesta paralel,” tegasnya.

 

Spekulasi Filosofis soal Mimpi

Prof Husin menilai klaim bahwa mimpi merupakan bukti keberadaan alam semesta paralel lebih tepat dipandang sebagai spekulasi filosofis atau interpretasi metafisis daripada kesimpulan ilmiah. 

Ia menambahkan bahwa mekanisme terbentuknya mimpi memang masih terus diteliti, tetapi berdasarkan pengetahuan ilmiah saat ini, mimpi dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara ingatan, emosi, persepsi, dan imajinasi selama tidur, bukan sebagai jendela menuju realitas lain.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya