Keringat Bukan Penyebab Utama Bau Badan, Ini Penjelasannya

Keringat sebenarnya tidak berbau. Lantas, apa yang membuat ketiak dan lipatan tubuh menjadi bau?

Diterbitkan 04 September 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggapan bahwa keringat menjadi penyebab utama bau badan ternyata tidak sepenuhnya benar. Saat pertama kali diproduksi dan keluar dari kulit, cairan keringat dari bagian tubuh mana pun sebenarnya tidak berbau.

Lantas, mengapa keringat dari ketiak dan lipatan tubuh tertentu lebih sering menimbulkan bau dibandingkan keringat di area dada atau punggung?

Menurut Dokter Spesialis Dermatologi, Venerologi, dan Estetika, Irwan Saputra Batubara, hal tersebut berkaitan dengan jenis kelenjar keringat yang menghasilkan keringat.

Mengenal Kelenjar Ekrin dan Apokrin

Tubuh manusia memiliki dua jenis kelenjar keringat utama, yaitu kelenjar ekrin (eccrine) dan apokrin (apocrine). Keduanya memiliki lokasi serta karakteristik yang berbeda.

Kelenjar ekrin tersebar hampir di seluruh permukaan tubuh, termasuk dahi, dada, punggung, hingga telapak tangan. Kelenjar ini menghasilkan keringat yang jernih, encer, tidak berwarna, dan tidak berbau.

Sementara itu, kelenjar apokrin hanya terdapat di area tertentu yang banyak memiliki folikel rambut, seperti ketiak, lipatan payudara, dan area genital. Keringat yang dihasilkan cenderung lebih kental dan mengandung sisa-sisa sel kulit.

"Kelenjar keringat itu ada dua jenis, kita bilangnya ekrin dan apokrin. Ekrin itu kelenjar keringat di hampir seluruh tubuh, misalnya di dada, di belakang, itu keringatnya jernih, encer, tidak berbau, tidak berwarna," ujar Irwan dalam diskusi media oleh RS Pondok Indah di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

"Tetapi pada beberapa area tubuh, terutama ketiak, area sekitar dada, kemudian genital, itu keringatnya yang kita bilang apokrin. Keringat ini lebih kental, lebih berwarna, dan mudah berubah menjadi bau," tambahnya.

Bagaimana Bau Badan Terbentuk?

Irwan menjelaskan bahwa bau badan muncul ketika keringat apokrin berinteraksi dengan bakteri alami yang hidup di permukaan kulit.

"Keringat saat keluar dari tubuh kita itu tidak berbau, baik keringat yang ekrin atau keringat apokrin. Tetapi keringat apokrin yang tadi di ketiak, daerah genital, sekitar payudara, karena dia lebih kental, banyak sisa-sisa sel matinya di situ. Saat bertemu dengan bakteri, dia akan menimbulkan bau yang tidak sedap," ujarnya.

Selain jenis kelenjar keringat dan bakteri di kulit, sejumlah kebiasaan sehari-hari juga dapat membuat bau badan menjadi lebih kuat.

Salah satunya adalah konsumsi makanan dengan aroma yang kuat, seperti bawang-bawangan, petai, dan jengkol. Beberapa rempah aromatik juga dapat memengaruhi aroma tubuh. Sementara itu, minuman berkafein seperti kopi dapat merangsang produksi keringat pada sebagian orang.

Kebersihan tubuh dan pakaian juga tidak kalah penting. Membiarkan pakaian yang sudah basah oleh keringat tetap menempel di tubuh hingga mengering dapat menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur.

Karena itu, Irwan menyarankan untuk segera membersihkan tubuh setelah beraktivitas. Jika belum memungkinkan untuk mandi, setidaknya segera mengganti pakaian yang basah dengan pakaian kering.

"Saya selalu bilang ke pasien, kalau keringat sampai kering di badan, baju yang basah keringat kering di badan, itu mencetuskan penyakit, jamur, panu dan sebagainya. Sehingga paling bagus, 30 menit setelah aktivitas, langsung mandi. Tapi kalau tidak memungkinkan, setidaknya ganti baju yang kering," pungkas Irwan.