Rumor Pencurian Alat Kelamin Picu Kematian Lebih dari 80 Orang

Lebih dari 80 orang tewas akibat rumor pencurian alat kelamin yang memicu amukan massa di Afrika.

Diterbitkan 04 September 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Dodoma - Rumor pencurian alat kelamin memicu kekerasan mematikan di sejumlah negara Afrika. Lebih dari 80 orang dilaporkan tewas dalam periode Oktober 2025 hingga Juli 2026 setelah dituduh mencuri alat kelamin orang lain.

Temuan tersebut berdasarkan laporan BBC Global Disinformation Unit yang mengumpulkan data dari kepolisian di enam negara Afrika.

Rumor yang beredar menyebut sentuhan sederhana di bahu dapat membuat penis dan testis seorang pria menyusut atau bahkan menghilang. Klaim yang tidak terbukti tersebut kemudian menyebar melalui media sosial, memicu kepanikan dan berujung pada aksi main hakim sendiri.

Orang-orang yang dituduh sebagai 'pencuri alat kelamin' menjadi sasaran pengeroyokan, bahkan dibunuh oleh massa.

Dikeroyok karena Dituduh Mencuri Alat Kelamin

Boniface Mgala, seorang mekanik asal Tanzania, menjadi salah satu korban kekerasan tersebut. Pada April 2026, Mgala dikeroyok massa hingga mengalami luka parah setelah dituduh mencuri alat kelamin seseorang.

"Mereka berteriak bahwa kami telah mencuri alat kelamin seseorang dan kami tidak punya cara untuk melarikan diri karena massa begitu besar," ujar Mgala kepada BBC.

Kasus yang dialami Mgala bukan kejadian tunggal. BBC menemukan sejumlah video yang memperlihatkan pria mengaku penis dan testis mereka menyusut atau menghilang setelah bersentuhan dengan orang asing.

Massa kemudian mengejar orang yang dituduh sebagai pelaku dan menuntut agar alat kelamin tersebut dikembalikan, seperti dikutip dari Kanal Global Liputan6.com pada Jumat, 4 September 2026.

Ada Korban yang Dibakar Massa

Pada hari yang sama ketika Mgala dan temannya diserang, fotografer komersial Michael Silavwe menyaksikan kekerasan serupa di Tunduma, Tanzania.

Menurut Silavwe, kepanikan di kota tersebut meningkat setelah video mengenai 'alat kelamin yang dicuri' beredar di TikTok.

Dia melihat warga berlarian dan kemudian mengetahui seorang pria telah dituduh sebagai pelaku. Pria tersebut dikeroyok hingga akhirnya dibakar massa.

"Setelah mereka membakarnya, polisi tiba di lokasi dan semua orang berpencar lalu melarikan diri," kata Silavwe kepada BBC.

BBC Global Disinformation Unit kemudian memverifikasi salah satu video serangan tersebut. Rekaman yang telah ditonton lebih dari 100.000 kali di TikTok dan Facebook memperlihatkan sekelompok orang memukuli seorang pria sambil menuntut agar ia mengembalikan alat kelamin yang dituduhkan telah dicurinya.

"Insiden-insiden itu terus meningkat dan orang-orang terus dipukuli," ujar Silavwe.

Rumor Menyebar, Ketakutan Ikut Meluas

Ketakutan akibat rumor tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang menjadi sasaran tuduhan.

Asha Steven Mwakilasa, penjahit dan perancang busana berusia 50 tahun di Tunduma, mengaku sempat merasa cemas ketika rumor itu menyebar.

Namun, setelah mengetahui lebih banyak informasi, ia menyadari bahwa klaim tersebut tidak benar.

"Saya akhirnya menyadari bahwa itu tidak benar," katanya.

Meski demikian, kecemasan belum sepenuhnya hilang, terutama ketika suami atau anak-anaknya berada di luar rumah. Ia bersyukur polisi kini melakukan patroli untuk mencegah kekerasan kembali terjadi.

Komisioner Distrik Momba, Elias Daniel Mwandobo, mengatakan penyelidikan lokal menemukan dugaan adanya niat kriminal di balik sejumlah insiden.

"Individu-individu bersekongkol untuk melakukan kejahatan dan memicu kepanikan publik demi keuntungan mereka sendiri," ujarnya kepada BBC.

Media Sosial Membuat Rumor Terlihat Nyata

BBC Disinformation Unit juga memverifikasi video serangan serupa dari Mozambik dan Kenya.

Puluhan rekaman kekerasan massa, pengakuan orang yang mengaku sebagai korban, peringatan mengenai insiden, hingga video yang dibuat seolah-olah merupakan laporan kejadian di lokasi tertentu beredar di TikTok dan Facebook.

Sebagian konten tersebut bahkan masih dapat ditemukan secara online.

Juru bicara Meta mengatakan kepada BBC bahwa perusahaan sedang meninjau konten yang dilaporkan dan akan mengambil tindakan terhadap konten yang terbukti melanggar kebijakan. TikTok belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar BBC.

Tidak semua pembuat konten yang menyebarkan peringatan mengenai "pencurian alat kelamin" diketahui benar-benar mempercayai rumor tersebut. Sebagian diduga hanya mengejar interaksi dan jumlah penonton.

Ada pula pengguna yang mempromosikan benda-benda yang diklaim dapat melindungi seseorang dari "pencurian alat kelamin". Sementara itu, sejumlah komedian justru memparodikan rumor tersebut melalui sketsa.

Penulis Julien Bonhomme menjelaskan bahwa smartphone dan media sosial membuat rumor dapat menyebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang.

Dalam bukunya, The Sex Thieves: The Anthropology of a Rumor, Bonhomme membahas bagaimana rumor mengenai 'pencuri alat kelamin' menyebar dan mengapa sebagian orang dapat mempercayainya.

Menurutnya, masyarakat kini tidak hanya mendengar klaim bahwa seseorang kehilangan alat kelamin. Mereka juga dapat melihat video pria yang tampak tertekan dan mengaku mengalami hal tersebut atau menyaksikan massa bereaksi terhadap sebuah tuduhan.

Kehadiran video membuat klaim yang belum terverifikasi dapat terlihat seperti memiliki bukti nyata.

Mozambik Catat Korban Terbanyak

Dari sejumlah negara yang terdampak, Mozambik menjadi salah satu yang mengalami situasi paling parah.

Pada Mei 2026, kepolisian menyatakan 55 orang tewas hanya dalam waktu enam minggu akibat kekerasan terkait rumor tersebut.

Korban termasuk seorang polisi, tenaga kesehatan, dan pegawai negeri.

Presiden Mozambik Daniel Chapo mengecam penyebaran rumor tersebut. Ia menegaskan bahwa klaim mengenai pencurian alat kelamin adalah palsu dan pemerintah tidak menemukan bukti medis bahwa seseorang kehilangan bagian tubuhnya.

Dua tenaga kesehatan bahkan diserang di rumah dan tempat kerja mereka pada April di Provinsi Cabo Delgado, wilayah yang berbatasan dengan Tanzania.

Fasilitas kesehatan di kawasan tersebut sempat ditutup selama berminggu-minggu ketika pemerintah menjalankan kampanye untuk melawan informasi palsu.

Dalam kampanye tersebut, pemerintah menyebut sebagian ketakutan yang muncul mungkin berkaitan dengan Koro syndrome, kondisi yang ditandai keyakinan bahwa alat kelamin menyusut, menghilang, atau tertarik masuk ke dalam tubuh.

Lima Orang Tewas di Kenya

Kekerasan akibat rumor tersebut kemudian berlanjut ke Kenya.

Lima orang tewas dikeroyok massa di wilayah pesisir Kwale dan Mombasa.

Komisioner Kabupaten Mombasa Mohamed Noor menyalahkan sejumlah pembuat konten yang menyebarkan klaim tersebut demi meningkatkan interaksi dan menarik perhatian penonton.

"Informasi yang salah seperti ini dapat dengan mudah menyebabkan hilangnya nyawa," kata Noor kepada BBC.

Polisi kemudian mengendalikan situasi dan melakukan sejumlah penangkapan.

Di antara orang yang ditangkap terdapat seorang ayah dan anak yang dijatuhi hukuman satu tahun penjara setelah mengaku bersalah karena menyerang seorang perempuan yang mereka tuduh menyebabkan alat kelamin seorang pria menghilang.

Klaim serupa juga memicu serangan massa di Malawi yang menyebabkan delapan orang tewas.

Sementara itu, Mgala masih berusaha memulihkan luka fisik akibat pengeroyokan di Tunduma. Namun, luka emosional karena kehilangan sahabatnya masih membekas.

"Saya masih sangat terluka ketika mengingat bagaimana teman saya meninggal tanpa alasan yang masuk akal, karena saya masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," katanya.

"Bagaimana mungkin tiba-tiba Anda dilempari batu tanpa alasan, lalu akhirnya kehilangan nyawa?" tutupnya.