Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis mata Low Jin Rong dari Singapura memaparkan bahwa dalam praktik klinis sehari-hari, masyarakat dan pasien masih sering keliru membedakan antara katarak dan glaukoma.
“Banyak orang sering bingung membedakan katarak dan glaukoma. Padahal letak dan kondisi berbeda,” ujar Low saat sesi diskusi bersama awak media di Jakarta pada Jumat (24/7/2026).
Advertisement
Padahal dua masalah mata ini memiliki dua perbedaan yang mendasar:
- Letak Kerusakan
Perbedaan mendasar dari kedua gangguan ini terletak pada anatomi mata yang terdampak. Low menjelaskan katarak terjadi pada bagian depan mata, di mana lensa yang semua jernih secara perlahan menjadi keruh (cloudy lens).
Sementara itu, glaukoma terjadi di belakang mata, tepatnya pada saraf mata yang mengalami penumpukan cairan dan peningkatan tekanan bola mata.
- Sifat Kerusakan
Katarak umumnya bersifat reversible. Artinya, fungsi penglihatan pada orang mengalami ini dapat dipulihkan kembali setelah menjalani operasi penggantian lensa mata.
"Kondisi ini dapat ditangani lewat operasi untuk memulihkan penglihatan," tutur dokter yang praktik di Cornerstone Eye Centre.
Sementara itu, kebutaan atau menurunnya penglihatan akibat glaukoma bersifat irreversible. Saraf mata yang sudah rusak tidak dapat diperbaiki kembali.
Glaukoma merupakan kondisi yang dapat berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Penyakit ini dinilai dapat merusak saraf optik dan memengaruhi penglihatan samping
Meski begitu, pengobatan tetap bisa dilakukan. Namun, pengobatan glaukoma bertujuan untuk menjaga sisa penglihatan yang masih ada agar tidak semakin memburuk, bukan mengembalikan yang sudah hilang.
Tujuan utama penanganan glaukoma adalah menurunkan tekanan bola mata agar saraf mata tidak makin tertekan. Ada tiga metode utama yang biasa digunakan, yaitu obat tetes mata, prosedur laser, dan tindakan operasi.
Saat ini, pengobatan glaukoma telah berkembang pesat. Selain penggunaan obat tetes mata bebas pengawet,yang lebih nyaman untuk mata kering, teknik pembedahan glaukoma kini tidak lagi membutuhkan operasi besar dengan risiko tinggi.
3 Tips Menjaga Kesehatan Mata
Low menyampaikan bahwa deteksi masalah pada mata sangatlah penting. Dia juga menyarankan beberapa hal dalam menjaga kesehatan mata.
Pertama, melakukan pemeriksaan mata dalam kurun waktu 1-2 tahun sekali, terutama ketika sudah memasuki usia 40 tahun. Hal ini dianggap karena meningkatnya risiko gangguan mata dan frekuensi berbagai kondisi lain muncul.
Di sisi lain, penyakit seperti diabetes juga menjadi salah satu pengaruh besar pada permasalahan mata. Oleh karena itu, pasien diabetes atau memiliki riwayat keluarga dengan glaukoma, wajib melakukan pemeriksaan lebih awal dan rutin.
Kedua, jangan mengabaikan gejala pandangan kabur. Jika hal tersebut terjadi segera cek ke dokter spesialis mata. Lalu, Low juga mengingatkan agar tidak memakai obat-obatan tanpa pengawasan medis karena berpotensi menimbulkan efek samping pada mata.
Ketiga, jika seseorang adalah pengguna kacamata gunakanlah dengan bijak.
“Deteksi dan pengobatan dini dapat melindungi penglihatan Anda. Jadi, sangat disarankan untuk memeriksa mata secara rutin,” pesan Low.