Tulis Tangan Ternyata Punya Manfaat Besar untuk Otak Anak

Benarkah tulis tangan baik untuk otak anak? Simak penjelasan IHDC dan hasil kajian terbarunya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 26 Juli 2026, 10:00 WIB
Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan kebiasaan tulis tangan membantu menyinkronkan fungsi motorik dan sensorik yang berperan dalam proses berpikir serta perkembangan otak anak. (Unsplash/Kelly Sikkema)

Liputan6.com, Jakarta - Tulis tangan bukan sekadar cara mencatat pelajaran di sekolah. Di tengah meningkatnya penggunaan laptop, tablet, dan gawai untuk belajar, kebiasaan menulis dengan tangan disebut memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan otak anak. Aktivitas ini dinilai dapat membantu menyinkronkan fungsi motorik dan sensorik yang berperan dalam proses berpikir, belajar, hingga membangun imajinasi tentang masa depan.

Di sisi lain, Indonesia Health Development Center (IHDC) mengingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi Silent Cognitive Burden, yakni penurunan kapasitas perkembangan kognitif anak yang terjadi secara perlahan akibat sejumlah masalah kesehatan yang belum menjadi perhatian utama. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan berkembang menjadi krisis kognitif pada anak Indonesia.

Temuan tersebut merupakan hasil Community Diagnosis yang dituangkan dalam Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4. Kajian yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan kuat dengan perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah, yaitu gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.

Berdasarkan analisis IHDC, lebih dari 8 juta anak Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan yang belum terkoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi, sedangkan data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan.

Tulis Tangan Bantu Sinkronkan Motorik dan Sensorik

Ray menjelaskan bahwa kebiasaan tulis tangan dapat membantu menyinkronkan fungsi motorik dan sensorik yang menjadi fondasi kemampuan berpikir anak. "Di negara seperti Swedia, Denmark, Norwegia, anak-anak enggak boleh ngetik-ngetik lagi selama sekolah, harus tulis tangan. Kenapa? Karena tulis tangan itu bikin sinkronisasi motorik dan sensorik. Kalau motorik dan sensorik udah sinkron, yang terjadi adalah anak mikir," ujar Ray.

Namun, menurutnya, manfaat tersebut hanya bisa diperoleh jika kebutuhan gizi anak juga terpenuhi. "Supaya motorik dan sensorik sinkron, dia jangan kurang gizi dong. Nah, mereka tuh udah selesai masalah ini," ujarnya.

Ray, menambahkan, Indonesia sebenarnya mampu membangun kapasitas berpikir anak ke arah tersebut. Namun, berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan otak anak harus dibenahi terlebih dahulu.

"Indonesia bisa enggak sampai tahap itu? Bisa. Tapi, syarat pertama adalah kita benahi dulu empat determinan yang kita jelaskan tadi. Harus. Anak Indonesia harus bisa memetakan masa depan," ujarnya.

Bangun Kapasitas Otak Sejak Dini

Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan kebiasaan tulis tangan membantu menyinkronkan fungsi motorik dan sensorik yang berperan dalam proses berpikir serta perkembangan otak anak. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Dalam kajian tersebut, IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity, yakni kapasitas neurokognitif yang memungkinkan anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, sekaligus membangun orientasi terhadap masa depan.

Menurut Ray, pembangunan anak tidak cukup hanya berfokus pada pencegahan penyakit, tapi juga harus diarahkan untuk membangun kapasitas otak sebagai fondasi kualitas sumber daya manusia.

"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework, yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial," katanya.

Lebih lanjut, Ray, menambahkan,"Kapasitas ini sebaiknya mulai diukur sejak usia anak agar mereka mampu memetakan imajinasi dan trajektori masa depannya."

IHDC menilai gangguan refraksi yang tidak terkoreksi menjadi determinan dengan peluang intervensi terbesar karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung terhadap proses belajar, serta dapat ditangani melalui skrining mata dan penggunaan kacamata.

Selain itu, lembaga tersebut juga mendorong pencegahan anemia defisiensi besi, peningkatan kualitas nutrisi anak sekolah, dan deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan modal manusia.

Era Digital Dinilai Membatasi Imajinasi Anak

Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, mengatakan kebiasaan tulis tangan membantu menyinkronkan fungsi motorik dan sensorik yang berperan dalam proses berpikir serta perkembangan otak anak. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Ray juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi anak-anak di era digital. Menurutnya, paparan informasi yang berulang di media sosial membuat pilihan cita-cita dan imajinasi anak menjadi semakin terbatas.

"Ada studi yang mengatakan bahwa dengan era digital sekarang, daya imajinasi menjadi terbatas. Karena opsi mereka untuk menjadi apa di masa depan itu semakin terbatas," katanya.

Dia, mencontohkan, anak-anak kini lebih sering terpapar profesi seperti YouTuber, influencer, atau personal blogger dibandingkan profesi lain yang memiliki kontribusi besar bagi masyarakat, seperti petani atau nelayan.

"Jarang kan? Yang ada adalah konten skin health dan lain sebagainya. Nah, ini bikin opsi mereka untuk berimajinasi tentang masa depan semakin terbatas. Nah, ini butuh bantuan teman-teman semuanya," pungkas Ray.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya