Mahasiswa Baru Rentan Stres Saat Masuk Kuliah, Ini Penyebabnya

Berbagai perubahan yang terjadi dalam waktu bersamaan pada mahasiswa baru dapat memicu stres,

Diterbitkan 25 Juli 2026, 13:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki dunia perkuliahan menjadi babak baru yang penuh tantangan bagi mahasiswa baru. Selain harus beradaptasi dengan sistem belajar yang berbeda, mereka juga dituntut membangun pertemanan baru, mengatur waktu secara mandiri, hingga menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum dikenal.

Berbagai perubahan yang terjadi dalam waktu bersamaan tersebut dapat memicu stres, tetapi kondisi itu merupakan respons yang wajar.

“Perubahan dari lingkungan sekolah menuju lingkungan kampus membawa banyak penyesuaian. Mahasiswa bertemu teman dari berbagai daerah dan berada di lingkungan yang jauh lebih besar. Bagi mereka yang belum pernah merantau, proses adaptasi juga mencakup penyesuaian dengan tempat tinggal baru,” kata Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psi.,

Cahyo juga meluruskan mengenai anggapan generasi Z itu lemah. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena kondisi psikologis setiap individu dipengaruhi oleh banyak faktor. Lingkungan keluarga, pola pengasuhan, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, dan dukungan sosial turut menentukan cara seseorang menghadapi tekanan.

Selain itu, gen Z tumbuh bersama perkembangan internet dan media sosial. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan yang berbeda. Salah satunya kemudahan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain.

Kebiasaan tersebut dapat memunculkan fear of missing out (FOMO), perasaan tertinggal, dan kecemasan, terutama ketika mahasiswa mulai memasuki lingkungan sosial yang baru.

“Media sosial membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Pikiran seperti, ‘Mengapa teman saya sudah seperti itu, sementara saya belum?’ dapat meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan,” jelasnya.

“Namun, hal tersebut bukan berarti generasi Z lebih lemah. Mereka hanya menghadapi dinamika dan tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya,” tegas Cahyo mengutip laman UMY.

 

Menghadapi Perubahan Saat Jadi Mahasiswa Baru

Cahyo menilai masa orientasi seharusnya menjadi ruang yang membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus, membangun relasi sosial, dan memahami kehidupan akademik. Orientasi tidak semestinya justru menambah tekanan yang dapat menghambat proses penyesuaian mahasiswa.

Mahasiswa baru juga disarankan mempertahankan rutinitas positif yang telah dimiliki, seperti berolahraga, menjalankan hobi, beribadah, beristirahat secara cukup, serta menjaga komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Kebiasaan tersebut dapat menjadi pijakan yang membantu mahasiswa mempertahankan kestabilan diri ketika menghadapi berbagai perubahan.

“Kebiasaan baik dapat menjadi jangkar ketika menghadapi perubahan. Selain itu, jangan ragu membangun pertemanan baru dan tetap berkomunikasi dengan orang tua, terutama pada masa-masa awal kuliah,” ujarnya.

Dukungan keluarga juga tetap diperlukan meskipun mahasiswa mulai belajar hidup mandiri. Namun, orangtua perlu memberikan ruang agar anak dapat mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan membangun kemandirian secara bertahap.

“Orangtua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sambil tetap memberikan dukungan. Proses ini akan lebih optimal apabila kampus dan keluarga bersama-sama mendampingi mahasiswa menjalani masa transisinya,” pungkas Cahyo.