Pengobatan Kolesterol Tidak Bisa Instan, Dokter Jantung Beri Penjelasan

Pengobatan kolesterol tidak hitungan hari tapi butuh jangka panjang.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 25 Juli 2026, 15:18 WIB
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Susetyo Atmojo menjelaskan bahwa pada umumnya pengobatan kolesterol tinggi tidak bisa instan.

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Susetyo Atmojo, menjelaskan bahwa pengobatan kolesterol pada umumnya bukan terapi jangka pendek. Tujuan utamanya bukan sekadar menurunkan kadar kolesterol jahat atau LDL dengan cepat, tetapi juga mempertahankannya tetap rendah dalam jangka panjang untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

"Pengobatan kolesterol itu umumnya bukan pengobatan yang instan atau cukup satu-dua hari, satu-dua minggu, atau satu-dua bulan," kata Susetyo dalam Health Talk bersama Daewoong Indonesia di Jakarta. 

Hal tersebut berkaitan dengan proses terbentuknya plak aterosklerosis yang juga tidak terjadi dalam waktu singkat. Berbagai faktor risiko, seperti obesitas maupun kadar kolesterol tinggi pada orang bertubuh kurus, membuat plak menumpuk sedikit demi sedikit di dinding pembuluh darah.

Ia mengibaratkan proses tersebut seperti menabung. Bedanya, yang ditabung adalah plak yang justru merugikan kesehatan.

"Plak itu menumpuk pelan-pelan, seperti investasi atau tabungan, tetapi ini tabungan yang jahat, yaitu plak aterosklerosis," ujarnya.

Karena plak terbentuk secara bertahap, mengonsumsi obat kolesterol dalam waktu singkat dinilai tidak cukup untuk membuat plak berkurang secara optimal. Bahkan, jika obat dihentikan terlalu cepat, proses penumpukan plak dapat kembali berlangsung.

"Kalau kita hanya minum obat dalam periode yang singkat, sangat tidak mungkin plak itu hilang atau mengalami regresi secara optimal. Begitu obat dihentikan, plak bisa menumpuk lagi," jelasnya.

 

Evaluasi Pengobatan

Untuk mengetahui pengobatan dan modifikasi gaya hidup berhasil atau tidak maka dokter akan secara berkala melakukan evaluasi. Biasanya pasien akan diminta menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar kolesterol total, LDL, trigliserida. 

"Pada prinsipnya the sooner the better untuk bisa mencapai target LDL sesuai profil kondisi masing-masing," pesannya. 

Selain memastikan kadar LDL mencapai target, yang tidak kalah penting adalah mempertahankannya tetap berada dalam kisaran yang dianjurkan. Menurutnya, semakin lama kadar LDL terkontrol, semakin besar manfaatnya dalam menekan risiko penyakit jantung dan stroke.

Ia pun mengingatkan agar pasien yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular, terlebih yang sudah pernah mengalami penyakit jantung atau stroke, tidak ragu menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter.

"Jangan pernah ragu untuk memiliki kadar LDL yang lebih rendah dari waktu ke waktu. Semakin tinggi kadar LDL atau kolesterol jahat, maka plak aterosklerosis akan semakin menumpuk. Akibatnya, risiko serangan jantung dan stroke juga semakin tinggi," kata pria yang juga dosen di Fakultas Kedokteran UI itu.              

Jalankan Modifikasi Gaya Hidup

Mengonsumsi obat harus pula dibarengi dengan modifikasi gaya hidup pada pasien kolesterol tinggi.

Berikut langkah sederhana yang disarankan Susetyo:

1. Ubah cara memasak

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menyarankan untuk mengurangi makanan yang digoreng dan mulai memilih metode memasak yang lebih sehat, seperti dikukus, direbus, atau dibakar. Menurutnya, makanan tidak harus selalu dimasak menggunakan banyak minyak agar tetap lezat.

2. Berhenti Merokok

Selain menjaga pola makan, berhenti merokok juga menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

"Kalau merokok, yuk berhenti," ujar Susetyo.

3. Berolahraga 30 Menit

Aktivitas fisik juga berperan membantu mengendalikan kadar lemak dalam tubuh. Susetyo menganjurkan masyarakat untuk tidak malas bergerak dan berolahraga setidaknya 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit selama lima hari.

Ada banyak pilihan olahraga intensitas ringan hingga sedang, seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, atau senam, dapat menjadi pilihan. Kemudian padukan dengan latihan beban. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya