Sampah Makanan Indonesia Menumpuk, Tingginya Bisa Setara Dua Monas

23 juta orang Indonesia sulit makan tapi sampah makanan justru menumpuk setara dua Monas.

Diterbitkan 08 September 2026, 12:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sampah makanan di Indonesia menjadi persoalan yang ironis. Di tengah masih adanya masyarakat yang kesulitan mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, makanan dalam jumlah besar justru terbuang.

Peneliti sekaligus Founder of Health Collaborative Center (HCC) Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menyoroti paradoks tersebut dalam IHDC Youth x PERMIAS Nasional Roundtable Discussion bertema 'Exploring Nutrition and Food Security in Indonesia' belum lama ini.

Ray mengatakan bahwa saat ini terdapat sekitar 23 juta orang Indonesia yang tidak mampu memenuhi asupan makanan yang cukup. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan akses pangan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

"23 juta orang itu banyak banget buat teman-teman. Ini hampir satu populasi satu negara Eropa. Luxembourg itu katanya cuma 9 juta," kata Ray.

Dia menilai bahwa persoalan tersebut semakin penting diperhatikan karena Indonesia memiliki populasi anak muda yang besar. Kelompok ini, menurut Ray, dapat mengambil peran dalam mencari solusi terhadap persoalan pangan dan gizi.

Namun, di tengah kondisi tersebut, Indonesia juga menghadapi persoalan lain, yakni tingginya jumlah makanan yang terbuang. "Apesnya adalah kita adalah salah satu negara pembuang makanan terbesar di dunia," ujar Ray.

Menurut Ray, data Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahun di dunia. Angka tersebut menunjukkan besarnya persoalan food waste yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dengan ketahanan pangan.

Sampah Makanan Bisa Setara Dua Menara Monas

Ray kemudian mengungkapkan kajian Indonesia Gastronomy Community (IGC) mengenai besarnya sampah makanan yang dihasilkan. Dia, mengatakan, jika sampah makanan yang terkumpul dalam kurun waktu tertentu ditumpuk, volumenya dapat mencapai ukuran yang sangat besar.

"IGC kami bikin kajian bahwa dalam setahun, dalam lima tahun, kalau food waste itu ditumpuk, itu bisa setinggi dua menara Monas," kata Ray.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sebuah paradoks. Indonesia memiliki jutaan orang yang belum dapat mengakses makanan secara cukup dan bergizi, tetapi pada saat yang sama makanan dalam jumlah besar justru berakhir menjadi sampah.

"Jadi, bisa kita bayangin nggak? Negara yang ada 23 juta orang nggak bisa makan cukup. Nggak bisa berakses makanan bergizi. Nggak bisa dapat sumber makanan yang baik," tuturnya.

Ray menilai persoalan food waste perlu dilihat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. Mengurangi makanan yang terbuang dapat menjadi salah satu langkah yang bisa dilakukan masyarakat.

Anak Muda Bisa Ambil Bagian

Ray mendorong anak muda untuk tidak hanya melihat persoalan pangan sebagai masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah atau lembaga tertentu. Menurutnya, anak muda juga dapat mengambil bagian melalui berbagai inisiatif sederhana.

"Gimana dong ini kalau anak muda itu bisa, dengan inisiatifnya itu, kalaupun tidak mampu membuka akses untuk makanan bergizi, at least kita bantu supaya nggak banyak makanan yang dibuang," ujarnya.

Oleh sebab itu, Ray berharap IHDC Youth dan PERMIAS Nasional dapat menyusun call to action berupa tiga aksi yang bisa dilakukan anak muda untuk membantu mengurangi persoalan tersebut.

"Dan anak muda itu membutuhkan bagian dari solusi tersebut," kata Ray.

Menurutnya, langkah untuk mengurangi sampah makanan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kesadaran untuk menghargai makanan, mengurangi makanan yang terbuang, dan memastikan pangan yang tersedia dimanfaatkan dengan baik dapat menjadi bagian dari solusi.

Dengan begitu, persoalan akses pangan dan sampah makanan tidak lagi dilihat sebagai dua masalah yang terpisah, melainkan sebagai tantangan yang saling berkaitan dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.