Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan pencegahan hepatitis tergantung jenis virus yang menyebabkan penyakit tersebut. Hepatitis A umumnya dapat dicegah dengan menjaga kebersihan makanan, minuman, dan lingkungan. Berbeda dengan pencegahan hepatitis B dan C.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, M.A., menjelaskan penularan Hepatitis A berkaitan erat dengan sanitasi dan higienitas. Virus hepatitis A dapat menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Advertisement
"Penularan Hepatitis A melalui feses. Virus dapat menempel pada makanan dan minuman akibat sanitasi yang kurang baik," ujar Andi dalam konferensi pers daring peringatan Hari Hepatitis Sedunia pada Senin (27/7/2026).
Karena itu, masyarakat diimbau lebih cermat dalam memilih makanan serta menjaga kebersihan saat mengolah maupun mengonsumsi makanan sehari-hari.
"Misalnya saat membeli makanan di pinggir jalan, perhatikan kualitas higienitasnya. Begitu juga dengan makanan yang diolah di rumah," katanya.
Sementara itu, pencegahan Hepatitis B dan C memerlukan pendekatan yang berbeda. Kedua jenis hepatitis ini ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi.
Andi mengimbau masyarakat menghindari perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan, seperti hubungan seksual yang tidak aman dan penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkotika suntik.
"Pada Hepatitis B dan C, hindari hubungan seksual yang berisiko dengan orang yang mengidap hepatitis, serta penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna NAPZA suntik," ujarnya.
Pencegahan Penularan Hepatitis B Vertikal dari Ibu ke Anak
Selain mendorong upaya pencegahan melalui perubahan perilaku, Kemenkes juga memperkuat penanggulangan hepatitis dari sisi layanan kesehatan. Salah satu fokus utamanya adalah mencegah penularan Hepatitis B secara vertikal, yaitu dari ibu hamil kepada bayi.
Cakupan deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil ditingkatkan lalu ketika ibu hamil yang terdeteksi positif Hepatitis B maka akan diberikan terapi antivirus profilaksis untuk menurunkan risiko penularan kepada bayi.
Komite Ahli Hepatitis, Prof. dr. David Handojo Muljono, Sp.PD, FINASIM, FAASLD, menjelaskan bahwa setelah bayi lahir, perlindungan dilanjutkan dengan pemberian vaksin Hepatitis B dan Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG) dalam waktu kurang dari 24 jam.
Menurut David, rangkaian intervensi tersebut terbukti efektif menekan angka infeksi Hepatitis B pada anak. Program imunisasi nasional berhasil menurunkan prevalensi Hepatitis B (HBsAg) pada anak usia di bawah lima tahun (balita) menjadi 0,1 persen, melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 0,5 persen pada 2025.
"Pola imunisasi hepatitis B pada bayi berhasil menurunkan prevalensi keseluruhan dan mencapai target WHO pada balita. Namun, penularan di masyarakat masih berlangsung dan terkonsentrasi pada kelompok yang lahir sebelum tahun 1997," jelas David.
Ia mengatakan kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi Hepatitis B kronis yang dapat berkembang menjadi sirosis maupun kanker hati. Karena itu, upaya eliminasi hepatitis tidak hanya berfokus pada imunisasi bayi, tetapi juga memerlukan intervensi pada orang dewasa melalui vaksinasi kejar (catch-up vaccination), skrining berkala, serta akses terhadap terapi antivirus.
David pun mengimbau masyarakat, terutama mereka yang lahir sebelum 1997, untuk menjalani pemeriksaan dan skrining hepatitis di fasilitas pelayanan kesehatan agar infeksi dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin sebelum menimbulkan komplikasi serius.