Jangan Jauhi Pengidap Hepatitis B dan C karena Makan Bersama

Tak perlu menjauhi pengidap hepatitis B dan C saat makan bersama. Kenali fakta penularannya.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 16:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH mengingatkan agar tidak menjauhi pengidap hepatitis B dan C karena takut tertular saat makan bersama.

Makan satu meja, berbagi waktu makan, atau berpelukan tidak menjadi jalur penularan kedua jenis hepatitis tersebut.

"Berpelukan maupun makan bersama orang dengan hepatitis aman dilakukan dan tidak menularkan penyakit," ujar Fahmi dalam podcast TropmedTalk bertajuk 'Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?' yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia.

Artinya, pengidap hepatitis B dan C tetap dapat makan bersama keluarga, teman, maupun orang lain tanpa perlu dijauhi karena kekhawatiran penularan.

Hepatitis B dan C Menular Lewat Apa?

Hepatitis B dan C memiliki jalur penularan yang berbeda dengan hepatitis A dan E.

Hepatitis B dan C terutama menular melalui paparan cairan tubuh yang terinfeksi, khususnya darah. Risiko penularan dapat terjadi melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian atau penggunaan peralatan yang tidak steril.

Berbagi barang pribadi seperti sikat gigi dan alat cukur juga perlu dihindari karena dapat menjadi media paparan darah.

Khusus hepatitis B, virus juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya. Karena itu, pencegahan dan pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko.

Dengan demikian, makan bersama bukan merupakan jalur penularan hepatitis B dan C.

Hepatitis B dan C Tetap Berbahaya

Meski tidak menular melalui makan bersama, hepatitis B dan C tetap perlu diwaspadai.

Kedua jenis hepatitis ini dapat berkembang menjadi infeksi kronis dan menyebabkan komplikasi serius, termasuk sirosis serta kanker hati.

Infeksi hepatitis B dan C kronis juga menjadi salah satu beban kesehatan penting karena dapat berkembang menjadi penyakit hati berat.

"Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C," ujar Fahmi.

Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 6,7 juta orang yang terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta orang terinfeksi hepatitis C.

"Keduanya bisa menyebabkan angka kematian yang tinggi," tambah Fahmi.

Jangan Sampai Hepatitis Memicu Stigma

Kesalahpahaman mengenai cara penularan hepatitis dapat membuat pengidapnya dijauhi. Padahal, kata Fahmi, menjauhkan seseorang dari aktivitas sosial seperti makan bersama bukan cara untuk mencegah penularan hepatitis B dan C.

Yang perlu dilakukan adalah memahami jalur penularannya dan menerapkan pencegahan sesuai risiko.

Vaksinasi menjadi salah satu cara penting untuk mencegah hepatitis B. Sementara itu, hingga kini belum tersedia vaksin untuk hepatitis C sehingga pencegahannya terutama dilakukan dengan menghindari paparan darah yang terinfeksi.

Hepatitis juga tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, orang yang memiliki faktor risiko dianjurkan melakukan pemeriksaan meskipun merasa sehat.

Deteksi dini penting untuk mencegah infeksi berkembang menjadi kerusakan hati yang lebih berat.

Â