Liputan6.com, Jakarta - Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Andi Saguni, M.A., mengatakan penularan hepatitis B dari ibu ke bayi masih menjadi jalur penularan yang perlu diwaspadai.
"Hepatitis B juga dapat ditularkan secara vertikal dari ibu ke bayi," ujar Andi dalam konferensi pers daring, Senin (27/7/2026) peringatan Hari Hepatitis Sedunia yang jatuh setiap tanggal 28 Juli.
Advertisement
Meski demikian, Komite Ahli Hepatitis, Profesor dokter David H. Muljono, SpPD, FINASIM, FAASLD, menjelaskan risiko tersebut dapat dicegah melalui skrining pada ibu hamil dan intervensi medis yang tepat.
"Ibu hamil dites HBsAg. Jika hasilnya positif, ibu akan diberikan pengobatan tenofovir," kata Prof David di kesempatan yang sama.
Setelah bayi lahir, perlindungan dilanjutkan dengan pemberian Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG) dan vaksin hepatitis B sesegera mungkin. Rangkaian intervensi tersebut terbukti efektif mencegah penularan virus dari ibu kepada bayi.
Keberhasilan upaya ini tercermin dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Melalui skrining pada ibu hamil, pemberian terapi bagi ibu yang terinfeksi, serta imunisasi pada bayi, prevalensi hepatitis B (HBsAg) pada anak usia di bawah lima tahun (balita) berhasil ditekan hingga 0,1 persen.
Capaian tersebut bahkan melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 0,5 persen pada 2025, sekaligus memenuhi target eliminasi hepatitis B yang ditetapkan WHO untuk 2030.
Generasi Lahir Sebelum 1997 Masih Rentan
Di sisi lain David memberikan catatan terkait kesenjangan perlindungan pada populasi dewasa. Penularan secara horizontal antara individu di masyarakat masih tergambar pada kelompok yang lahir sebelum program imunisasi dijalankan secara masif pada tahun 1997.
"Imunisasi hepatitis B pada bayi berhasil menurunkan prevalensi secara keseluruhan dan mencapai target WHO pada balita. Namun, beban hepatitis B saat ini terkonsentrasi pada kelompok yang lahir sebelum 1997. Mereka berisiko lebih tinggi mengalami infeksi kronis dan komplikasi hati," kata Prof. David.
Data riset menunjukkan bahwa kasus kanker hati atau hepatocellular carcinoma (HCC) di Indonesia paling banyak ditemukan pada kelompok usia dekade ke-4 hingga ke-7.
Mirisnya, sebanyak 66% penderita kanker hati di Indonesia berusia di bawah 60 tahun, di mana mayoritas kasus tersebut berkaitan erat dengan infeksi Hepatitis B.
Selain itu, analisis serologi menunjukkan bahwa lebih dari 60% populasi dewasa di Indonesia masih rentan terinfeksi karena tidak memiliki kekebalan (imunitas) terhadap virus Hepatitis B.
Eliminasi Hepatitis B di Indonesia
Untuk menutup kesenjangan tersebut, eliminasi Hepatitis B di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan program imunisasi pada bayi. Dibutuhkan strategi kombinasi yang menggabungkan imunisasi bayi dengan intervensi langsung pada kelompok dewasa.
Kemenkes perlu memperluas program skrining, linkage to care atau rujukan perawatan, pengobatan antivirus, hingga catch-up vaccination (pemberian vaksin) bagi kelompok rentan, seperti tenaga kesehatan dan anak usia sekolah.
"Mari kita jadikan Hari Hepatitis Sedunia bukan sekadar momentum memperkuat komitmen, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran dan memperluas akses layanan. Kita memiliki tanggung jawab untuk menutup kesenjangan menuju eliminasi hepatitis, guna menyelamatkan generasi sekarang dan generasi besok," pungkas Andi.