Penyebab Hepatitis Tak Cuma karena Infeksi Virus

Penumpukan lemak berlebih di organ hati dan kebiasaan mengonsumsi alkohol bisa menyebabkan hepatitis

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 29 Juli 2026, 07:00 WIB
Hepatitis

Liputan6.com, Jakarta - Hepatitis merupakan kondisi peradangan pada organ hati (liver). Selama ini masyarakat mengenal penyebab hepatitis karena infeksi  virus hepatitis (A, B, C, D, dan E). Faktanya bisa juga karena faktor non-infeksi.

"Peradangan hati ini juga dapat disebabkan oleh faktor non-infeksi, seperti penumpukan lemak berlebih di organ hati dan kebiasaan mengonsumsi alkohol," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi, Lianda Siregar.

Lianda menjelaskan mengatakan penumpukan lemak berlebih ini terjadi akibat faktor metabolik seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi. Bila dibiarkan kondisi ini yang memicu peradangan kronis pada sel hati.

Untuk alkohol, Lianda mengatakan kebiasaan mengonsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang membuat organ hati bekerja keras memproses racun. "Hal ini menyebabkan penumpukan lemak, peradangan, hingga kerusakan sel hati yang berujung pada peradangan kronis," jelasnya.

Sayangnya, penyakit pada organ hati kerap tidak menimbulkan gejala maka disebut sebagai silent killer. Gejala baru muncul biasanya ketika kondisi parah.

"Padahal semakin cepat dideteksi, penanganan tepat yang diberikan dapat mencegah kondisi menjadi lebih parah dan terhindar dari komplikasi. Oleh karena itu, deteksi dini memegang peran penting," tutur dokter yang praktik di RS Pondok Indah - Puri Indah Jakarta itu. 

Pada hepatitis yang disebabkan karena perlemakan di hati maka penanganan difokuskan pada perbaikan faktor risiko metabolik dan pola hidup, sehingga dapat menghentikan penumpukan lemak di organ hati. 

 

Deteksi Dini Kerusakan Hati

Lianda mengatakan biopsi masih menjadi metode gold standard untuk menilai derajat kerusakan dan jaringan parut pada hati. Namun, biopsi bersifat invasif karena mengambil sampel jaringan. Hal ini kadang pasien enggan untuk melakukan pemeriksaan.

Opsi lain untuk deteksi dini kerusakan jaringan hati bisa dengan pemeriksaan darah dengan Enhanced Liver Fibrosis (ELF) Test, kalkulasi skor risiko dengan Fibrosis-4 (FIB-4) Index, atau yang paling unggul dan praktis adalah pemindaian dengan FibroScan. Untuk FibroScan, ini adalah alat memanfaatkan USG khusus memindai hati. Jadi bisa untuk mendeteksi dini penyakit hati, memastikan penyebab, hingga melihat tingkat kerusakan hati secara aman dan nyaman, akurat.

"INi metode pemeriksaan penunjang untuk menilai elastisitas organ hati atau mendeteksi kemungkinan adanya jaringan parut (fibrosis hati). Juga untuk mengetahui penyebab peradangan yang terjadi dipicu oleh faktor perlemakan hati (MAFLD) atau murni karena infeksi virus," tutur Lianda. 

Pasien hanya perlu berbaring telentang, dokter akan menggunakan probe (perangkat pemancar gelombang ultrasound) di area perut untuk memeriksa kondisi organ hati. Karena tidak melibatkan sayatan, FibroScan tidak akan menyebabkan rasa sakit. Usai pemeriksaan pasien bisa segera beraktivitas kembali setelahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya