Pria Hindari Celana Dalam Ketat dan Berbahan Poliester

Memilih celana dalam yang tepat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pria yang sedang merencanakan memiliki buah hati.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 31 Juli 2026, 20:00 WIB
Celana Dalam untuk Pria yang Tengah Berjuang Memiliki Buah Hati (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Tangerang Selatan - Menjaga kesehatan organ reproduksi tidak hanya dilakukan dengan menerapkan pola makan sehat atau rutin berolahraga. Pemilihan celana dalam juga berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi pria terutama yang sedang merencanakan memiliki buah hati.

Dokter spesialis andrologi Christian Christoper Sunnu mengingatkan untuk tidak memilih celana dalam ketat tapi longgar agar sirkulasi udara berjalan baik.  

"Buah zakar memang diciptakan menggantung di luar tubuh karena membutuhkan suhu sekitar 2 hingga 3 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan suhu tubuh agar pembentukan sperma berlangsung optimal," jelas Sunnu.

Maka dari itu penggunaan celana dalam yang terlalu ketat dapat meningkatkan suhu di area testis. Kondisi tersebut bisa mengganggu produksi sperma apabila terjadi secara terus-menerus.

Ia juga mengingatkan pria yang tengah atau merencanakan program memiliki anak untuk menghindari memakai celana berlapis-lapis. Hal itu akan membuat area di sekitar organ reproduksi jadi lebih panas.

Selain model celana dalam, pastikan juga bahan yang dipilih katun, bukan poliester.Penggunaan celana dalam berbahan sintetis seperti poliester dalam jangka panjang disebut dalam sejumlah penelitian berkaitan dengan penurunan kualitas sperma.

"Ada penelitian yang menyebutkan kalua memakai celana dalam poliester selama setahun itu jumlah sperma akan turun," tutur dokter yang praktik di Eka Hospital BSD ini dalam temu media beberapa waktu lalu.

 

Olahraga Ekstrem dan Berlebihan Pengaruhi Produksi Sperma

Dokter spesialis andrologi, Christian Christoper Sunnu dari Eka Hospital BSD bicara mitos dan fakta kesehatan reproduksi pria.

Sunnu mengatakan aktivitas fisik memang penting untuk menjaga kesehatan reproduksi pria. Namun, bagi yang tengah merencanakan memiliki buah hati perlu diketahui bahwa olahraga yang tiba-tiba ekstrem itu memengaruhi jumlah sperma.

Ia mencontohkan aktivitas bersepeda selama tiga hingga empat jam tanpa jeda dapat meningkatkan tekanan dan suhu di area genital sehingga berpotensi memengaruhi kualitas sperma. Begitu pula dengan Hyrox serta marathon. 

Sunnu mengungkapkan olahraga berlebihan dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas atau oxidative stress di dalam tubuh. Jika jumlahnya terlalu tinggi, radikal bebas dapat merusak berbagai sel, termasuk sel sperma.

Selain itu, tubuh juga memerlukan waktu untuk pulih setelah menjalani aktivitas fisik yang berat. Jika sudah mengalami overuse atau penggunaan tubuh secara berlebihan, proses pemulihan tidak berlangsung dalam hitungan hari.

"Kalau sudah overuse, pemulihannya bisa membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat bulan," kata Sunnu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya