Ilmuwan Temukan Petunjuk Baru soal Batas Maksimal Usia Manusia

Studi terbaru mengungkap batas maksimal usia manusia dan faktor yang diduga menjadi penghambatnya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 02 Agustus 2026, 12:00 WIB
Penelitian terbaru menunjukkan manusia kemungkinan memiliki batas biologis untuk hidup. Mutasi DNA disebut menjadi salah satu faktor yang membatasi usia, meski gaya hidup sehat tetap berperan penting dalam umur panjang. (Foto: Sehat Negeriku)

Liputan6.com, Jakarta - Seberapa lama manusia sebenarnya bisa hidup? Pertanyaan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Meski berbagai terapi anti-aging terus dikembangkan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manusia kemungkinan memiliki batas biologis yang sulit dilampaui.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal npj Aging menggunakan model matematika untuk memperkirakan usia maksimal manusia apabila hampir seluruh faktor penuaan yang masih dapat dibalik berhasil dihilangkan. Dalam simulasi tersebut, peneliti hanya menyisakan mutasi somatik, yaitu perubahan DNA yang secara alami terus menumpuk seiring bertambahnya usia.

Hasilnya, median usia manusia diperkirakan berada di kisaran 146 hingga 194 tahun, sekitar dua kali lipat dari harapan hidup saat ini. Namun, angka tersebut masih jauh di bawah prediksi sebagian pendukung gerakan longevity yang meyakini manusia dapat hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Temuan ini sekaligus memperkuat teori bahwa penuaan bukan dipicu oleh satu 'jam biologis', melainkan oleh berbagai mekanisme biologis yang saling memengaruhi.

"Studi ini mendukung pandangan bahwa penuaan adalah proses multifaktorial. Tidak ada satu faktor penuaan yang mampu menjelaskan proses penuaan manusia secara utuh. Sebaliknya, usia manusia dibentuk oleh berbagai mekanisme biologis yang saling berinteraksi," ujar Clinical Director Tulane Center for Aging, Tulane University, R. Osvaldo Navia, MD, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Mutasi DNA Diduga Menjadi Salah Satu Faktor Pembatas

Dalam penelitian ini, ilmuwan dari Rusia mengembangkan model komputasi untuk mengisolasi salah satu proses biologis utama yang terjadi selama penuaan, yakni akumulasi mutasi somatik.

Berbeda dengan mutasi genetik yang diwariskan sejak lahir, mutasi somatik muncul setelah seseorang lahir. Setiap kali DNA disalin atau mengalami kerusakan akibat aktivitas normal sel, kesalahan kecil dapat terjadi.

Sebagian besar memang tidak berbahaya, tetapi jika terus menumpuk selama puluhan tahun, mutasi tersebut dapat mengganggu fungsi sel hingga meningkatkan risiko kanker.

Melalui simulasi, peneliti menemukan bahwa organ yang memiliki kemampuan regenerasi rendah menjadi faktor pembatas utama umur manusia.

Neuron di otak dan sel otot jantung menjadi hambatan terbesar karena hampir tidak lagi membelah setelah seseorang dewasa. Ketika mutasi terus bertambah, sel-sel tersebut perlahan mati tanpa dapat digantikan sehingga membatasi usia manusia.

Sebaliknya, organ seperti hati menunjukkan kemampuan regenerasi yang sangat baik. Sel-sel yang rusak dapat terus digantikan oleh sel baru sehingga dalam simulasi fungsi hati mampu bertahan hingga puluhan ribu tahun.

Saat empat sistem organ utama digabungkan dalam satu model, median usia manusia diperkirakan mencapai sekitar 156 tahun, dengan kisaran 146 hingga 194 tahun, seperti dikutip dari healthline pada Minggu (2/8/2026)

Meski begitu, peneliti menegaskan bahwa mutasi DNA bukan satu-satunya penyebab penuaan. Masih banyak faktor lain yang belum dimasukkan ke dalam model, seperti gangguan fungsi mitokondria dan peradangan kronis.

"Model ini menunjukkan bahwa batas usia manusia kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh akumulasi mutasi DNA," kata profesor geriatri di Vanderbilt University, James Powers, MD, yang juga tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Bukan Sekadar Umur Panjang tapi Tetap Sehat

Para peneliti kini tidak lagi hanya berfokus pada life span, yaitu lamanya seseorang hidup tapi juga health span, yakni lamanya seseorang dapat hidup dalam kondisi sehat, aktif, dan bebas dari penyakit.

Hingga kini, bukti ilmiah paling kuat menunjukkan bahwa gaya hidup sehat masih menjadi cara terbaik untuk meningkatkan health span.

Olahraga teratur, berhenti merokok, menjaga tekanan darah dan kolesterol tetap normal, tidur yang cukup, serta memiliki hubungan sosial yang baik terbukti mampu menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.

Menurut spesialis kedokteran olahraga dari Cedars-Sinai Orthopaedics and Sports Medicine, Bert Mandelbaum, MD, salah satu indikator terbaik yang berkaitan dengan umur panjang adalah VO₂ max, yaitu kemampuan tubuh menggunakan oksigen secara optimal saat berolahraga.

"Jika Anda bertanya apa rahasia umur panjang, jawabannya bukan satu suplemen atau satu peptida. Rahasianya adalah kombinasi dari apa yang Anda makan, minum, pikirkan, dan lakukan setiap hari. Semuanya dimulai dari rutin berolahraga," ujarnya.

Di tengah maraknya tren biohacking dan produk yang diklaim dapat memperpanjang usia, para ahli mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada terapi tunggal yang terbukti mampu membuat manusia hidup lebih lama.

Sebaliknya, manfaat terbesar masih berasal dari kebiasaan sehat yang telah didukung oleh banyak bukti ilmiah. Dengan kata lain, jika ingin hidup lebih panjang sekaligus tetap sehat, investasi terbaik masih dimulai dari pola hidup sehat setiap hari.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya