Guru Besar IPB Luruskan Mitos soal Label Tanpa Tambahan Gula

Label tanpa tambahan gula bukan berarti bebas gula. Simak penjelasan Guru Besar IPB berikut ini.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 03 Agustus 2026, 15:44 WIB
Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Dr. Epi Taufik, menjelaskan makna sebenarnya label tanpa tambahan gula serta pentingnya memahami kandungan gula alami dalam produk pangan. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Masih banyak masyarakat yang salah memahami label tanpa tambahan gula. Tidak sedikit yang mengira label tersebut berarti suatu produk sama sekali tidak mengandung gula. Padahal, anggapan itu keliru.

Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., M.V.P.H., M.Si., menjelaskan bahwa istilah 'tanpa tambahan gula' atau no added sugar berarti tidak ada gula yang ditambahkan selama proses pengolahan. Namun, produk tersebut tetap dapat mengandung gula alami yang memang berasal dari bahan pangannya.

"Label tanpa tambahan gula berarti tidak ada gula yang ditambahkan selama proses pembuatan produk. Namun, gula alami yang memang sudah terkandung dalam bahan pangan tetap ada. Pada susu, misalnya, rasa manis berasal dari laktosa, yaitu gula alami yang memang terdapat secara alami di dalam susu," ujar Epi di peluncuran kampanye 'Temani Tumbuh Kembangnya, Rayakan Setiap Langkahnya!' pada Minggu (2/8/2026)

Lebih lanjut Epi menjelaskan bahwa setiap bahan pangan memiliki jenis gula alami yang berbeda. Buah-buahan, misalnya, mengandung fruktosa. Sedangkan susu mengandung laktosa.

Oleh sebab itu, Epi mengatakan bahwa konsumen perlu memahami perbedaan antara tanpa tambahan gula dan bebas gula (sugar free).

Produk dengan label tanpa tambahan gula masih mengandung gula alami, sedangkan produk bebas gula memiliki kandungan gula yang sangat rendah sesuai ketentuan yang berlaku.

Epi, menambahkan, kesalahpahaman terhadap label pangan sering membuat masyarakat menganggap semua rasa manis berasal dari gula tambahan. Padahal, rasa manis pada susu berasal dari laktosa yang memang terkandung secara alami.

"Rasa manis pada susu tidak selalu berasal dari gula pasir. Laktosa secara alami memberikan cita rasa manis sehingga produk susu tanpa tambahan gula tetap memiliki rasa yang enak tanpa perlu ditambahkan gula lagi," ujarnya.

Dia mengibaratkan hal tersebut seperti buah mangga yang sudah memiliki rasa manis alami. Menambahkan gula pasir pada buah yang memang sudah manis tentu tidak diperlukan.

Sebaliknya, kata Epi, konsumsi gula tambahan secara berlebihan justru dapat meningkatkan risiko diabetes, obesitas, dan berbagai penyakit metabolik.

 

Kandungan Susu bagi Pertumbuhan Anak

Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Dr. Epi Taufik, menjelaskan makna sebenarnya label tanpa tambahan gula serta pentingnya memahami kandungan gula alami dalam produk pangan. (Credit: unsplash.com/EnginA)

Selain meluruskan pemahaman mengenai label pangan, Prof. Epi menegaskan bahwa susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang mengandung berbagai zat gizi penting bagi pertumbuhan anak.

Oleh karena itu, kualitas bahan baku dan proses pengolahan perlu diperhatikan agar manfaat gizinya tetap terjaga.

"Selain itu, edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang juga perlu terus diperkuat agar orang tua semakin memahami kebutuhan nutrisi anak sesuai tahapan pertumbuhannya," kata Epi.

Di kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu Paramastri, Sp.A. mengatakan bahwa masa anak-anak merupakan periode penting bagi pertumbuhan dan perkembangan.

Oleh sebab itu, pemenuhan nutrisi perlu dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan anak di setiap tahap usianya.

Menurut Kanya, kebutuhan gizi harian seperti protein, kalsium, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta menjaga sistem kekebalan tubuh. Namun, nutrisi bukan satu-satunya faktor yang menentukan tumbuh kembang anak.

"Masa anak-anak merupakan periode penting bagi pertumbuhan dan perkembangan. Karena itu, orang tua perlu memastikan kebutuhan nutrisi harian anak terpenuhi sesuai usianya, termasuk asupan protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang berperan dalam mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta sistem imun," ujarnya.

Selain itu, tambah Kanya, kebiasaan makan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang berkualitas, dan stimulasi yang tepat juga menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

 

Tumbuh Kembang Anak Butuh Pendekatan Menyeluruh

Guru Besar Bidang Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Dr. Epi Taufik, menjelaskan makna sebenarnya label tanpa tambahan gula serta pentingnya memahami kandungan gula alami dalam produk pangan. (Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin)

Selain memastikan asupan nutrisi terpenuhi, orang tua juga perlu membiasakan pola makan sehat, mendorong anak aktif bergerak, menjaga kualitas tidur, serta memberikan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Epi, menambahkan, tumbuh kembang anak yang optimal juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, akademisi, pemerintah, hingga industri pangan.

Upaya tersebut perlu didukung dengan edukasi gizi yang berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami pentingnya memilih pangan bergizi sekaligus membaca informasi pada label kemasan dengan benar.

Pentingnya pemenuhan gizi masyarakat juga tercermin dalam Statistik Konsumsi Pangan Tahun 2025 yang diterbitkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian RI, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS). Pemantauan konsumsi pangan menjadi salah satu indikator untuk melihat kondisi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia.

Sejalan dengan upaya tersebut, Susu Tango Kido melalui kampanyenya ingin mendorong kesadaran keluarga Indonesia akan pentingnya pemenuhan nutrisi sekaligus pendampingan sejak dini sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak. 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya