Istilah Cabut Singkong Viral di Thread, Ketahui Fakta tentang Senggama Terputus

Pembahasan mengenai cabut singkong masih ramai dibahas di Thread. Dalam medis istilah ini disebut coitus interuptus.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 03 Agustus 2026, 20:00 WIB
Ilustrasi Pasangan Muslim. (Unsplash/Priscilla Du Preez

Liputan6.com, Jakarta - Istilah cabut singkong belakangan ramai diperbincangkan di media sosial Thread. Istilah tersebut tidak terkait dengan pertanian tapi digunakan untuk menggambarkan metode senggama terputus atau coitus interruptus, yakni cara mencegah kehamilan dengan menarik penis sebelum ejakulasi terjadi.

Meski dianggap sebagai salah satu cara untuk mencegah kehamilan tanpa alat kontrasepsi, metode senggama terputus tetap memiliki risiko kegagalan. Pasalnya, cairan yang keluar sebelum ejakulasi atau cairan pra-ejakulasi (pre-ejaculate) dapat mengandung sperma pada kondisi tertentu.

"Metode ini memiliki kemungkinan kehamilan yang besar,” ujar Hilda Hutcherson, M.D., profesor obstetri dan ginekologi di Columbia University Medical Center, AS.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), sekitar 22 dari setiap 100 perempuan yang hamil tidak direncanakan di tahun pertama yang menggunakan metode ini. Salah satu penyebab kegagalan karena terlambat menarik penis keluar.

“Beberapa pasien saya mengatakan kehilangan kendali dan justru menarik pasangannya kembali, tanpa menyadari bahwa pasangannya hampir mengalami ejakulasi,” tambah Hutcherson mengutip Self.

Kelemahan Metode Cabut Singkong

Meski dianggap praktis karena tidak menggunakan alat kontrasepsi, metode cabut singkong alias senggama terputus atau pull-out method bukan cara yang sepenuhnya efektif untuk mencegah kehamilan.

Beberapa kekurangan metode coitus interuptus antara lain:

1. Keberhasilan bergantung pada kontrol pasangan pria

Pada metode senggama terputus, keberhasilan mencegah kehamilan sangat bergantung pada kemampuan pria menarik penis tepat sebelum ejakulasi. Jika terlambat atau terjadi kesalahan, sperma tetap dapat masuk ke vagina dan meningkatkan risiko kehamilan seperti mengutip Cleveland Clinic. 

2. Dapat membuat hubungan seksual terasa lebih menegangkan

Alih-alih menikmati hubungan seksual, pasangan bisa merasa cemas karena harus memastikan penis ditarik keluar tepat waktu. Tekanan tersebut dapat membuat aktivitas seksual menjadi kurang nyaman.

3. Tidak melindungi dari infeksi menular seksual (IMS)

Metode senggama terputus hanya bertujuan mencegah masuknya sperma, tetapi tidak dapat mencegah penularan IMS. Penyakit seperti klamidia, gonore, dan trikomoniasis tetap dapat menular melalui cairan tubuh maupun kontak seksual.

 

Potensi Kehamilan Tinggi, Kenapa Masih Banyak yang Pakai Metode Ini?

Angka kehamilan bila menggunakan metode ini tinggi tapi banyak pasangan yang melakukanya dengan alasan berikut diantaranya:

  • Sebagian pasangan merasa metode ini lebih sederhana karena tidak perlu mempertimbangkan banyak pilihan kontrasepsi.
  • Kurangnya pengetahuan mengenai pilihan kontrasepsi yang lebih efektif. Padahal ada metode kontrasepsi lain dengan efektivitas lebih tinggi, seperti IUD.
  • Tidak ingin menggunakan alat atau obat kontrasepsi tertentu.
  • Sebagian pasangan mungkin merasa keberatan menggunakan kontrasepsi yang melibatkan alat, pil, suntikan, maupun plester KB.
  • Dianggap lebih praktis dan menjaga spontanitas hubungan seksual.
  • Digunakan sebagai metode tambahan bersama kontrasepsi lain. Ada pula pasangan yang menggunakan metode senggama terputus sebagai perlindungan tambahan untuk menurunkan kemungkinan kehamilan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya