Kolom Pakar: Ketika Menolong Orang Lain Juga Bisa Membuat Kita Lelah

Menjadi tempat bersandar bagi orang lain bisa menguras emosi. Kapan kita perlu berhenti sejenak?

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 09 Agustus 2026, 16:00 WIB
Menolong orang lain memang hal yang baik, tetapi terus memberikan empati juga membutuhkan energi. Mengambil jeda bukan berarti menyerah, melainkan memberi kesempatan bagi diri untuk kembali hadir dengan utuh. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta - Ada pekerjaan yang menuntut kita menggunakan pikiran. Ada yang menguras tenaga. tapi ada pula pekerjaan yang membuat kita ikut membawa pulang emosi orang lain. Menjadi psikiater adalah salah satunya.

Setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang datang membawa kecemasan, kesedihan, kehilangan, konflik, trauma, hingga perjuangan menghadapi depresi dan gangguan bipolar. Tugas saya bukan hanya mendengarkan, tapi juga mencoba memahami apa yang mereka rasakan dan membantu mencari jalan keluar.

Oleh sebab itu, ada kalanya saya merasa lelah bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.

Saya teringat beberapa kali ketika menjalani rangkaian konsultasi di penghujung hari yang sangat padat. Kadang tinggal satu pasien lagi yang harus saya temui, tapi saya memilih mengambil waktu sejenak untuk berhenti. Duduk, menarik napas, minum, dan membiarkan pikiran beristirahat beberapa menit.

Pagi itu saya cukup banyak menangani pasien dengan gangguan mood, termasuk depresi dan bipolar. Setiap pasien tentu memiliki cerita yang berbeda, tapi banyak di antaranya membawa beban psikologis yang tidak ringan.

Jeda tersebut bukan berarti saya tidak peduli dengan pasien berikutnya. Justru sebaliknya.

Saya menyadari bahwa kalau saya memaksakan diri ketika tubuh dan pikiran sudah sangat lelah, kemampuan saya untuk benar-benar hadir dan mendengarkan pasien juga dapat berkurang.

Dalam kesehatan mental, kita mengenal istilah compassion fatigue --- kelelahan yang dapat muncul ketika seseorang terus-menerus memberikan empati dan perhatian kepada orang yang sedang mengalami penderitaan.

Istilah ini penting bukan hanya bagi tenaga kesehatan. Orang yang merawat anggota keluarga yang sakit, perawat, psikolog, guru, pekerja sosial, bahkan seseorang yang terus menjadi tempat bersandar bagi teman-temannya juga dapat mengalaminya.

Menolong orang lain memang sebuah hal yang baik. Namun, kemampuan untuk peduli juga membutuhkan energi.

Sering kali kita berpikir bahwa orang yang bekerja membantu orang lain harus selalu kuat. Seolah-olah merasa lelah berarti kurang profesional, kurang tulus, atau kurang peduli.

Saya justru belajar sebaliknya. Mengambil jeda bukan berarti menyerah.

Kadang kita berhenti sebentar justru supaya bisa kembali hadir dengan lebih utuh.

Saya pun masih belajar mengenali batas diri. Kapan harus melanjutkan, kapan harus memperlambat langkah, dan kapan perlu mengatakan kepada diri sendiri bahwa hari ini saya juga membutuhkan istirahat.

Mungkin ini juga berlaku bagi banyak orang di luar dunia medis.

Kita tidak harus selalu menjadi tempat bersandar bagi semua orang tanpa pernah menyediakan tempat untuk diri sendiri bersandar.

Karena pada akhirnya, merawat orang lain membutuhkan kita untuk tetap memiliki energi untuk merawat diri sendiri.

Dan, mungkin, menjadi manusia yang baik bukan berarti selalu tersedia setiap saat.

Kadang menjadi manusia yang baik juga berarti tahu kapan harus berhenti sejenak.

Ikhlas. Sabar. Sadar.

Oleh: dr. Andri, Sp.KJ., FAPM

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya