Kanker Payudara dan Serviks Diam-Diam Berkembang Tanpa Keluhan

Skrining rutin dapat membantu menemukan kanker payudara dan serviks saat stadium awal, ketika belum timbul keluhan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 10 Agustus 2026, 17:45 WIB
Kanker payudara/unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Merasa sehat bukan berarti perempuan terbebas dari risiko kanker. Dua kanker di peringkat teratas yang banyak 'menyerang' perempuan di Indonesia yakni payudara dan serviks kerap berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal.

Dari pengalaman di ruang praktik, dokter spesialis bedah konsultan onkologi, Bajuadji mengungkapkan banyak pasien kanker payudara baru datang untuk memeriksakan diri setelah merasakan ada keluhan. Misalnya ada benjolan, nyeri, atau perubahan pada payudara. 

"Padahal kanker payudara pada stadium awal sering kali belum menimbulkan keluhan yang jelas," kata Bajuadji.

Sama seperti kanker payudara, kanker serviks juga pada tahap awal tidak menimbulkan keluhan yang khas seperti disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan onkologi, Denny Sanjaya dari Women's Health Center Bethsaida Hospital.

Keduanya pun sepakat bahwa skrining rutin dan pemeriksaan yang sesuai dengan usia maupun faktor risiko menjadi langkah penting untuk membantu mendeteksi kelainan sejak dini.

"Bila kanker payudara ditemukan dini, penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan optimal," tambah Bajuadji.

Untuk membantu mendeteksi kelainan pada payudara sejak tahap awal, tersedia pemeriksaan USG payudara dan mammografi yang bisa disesuaikan dengan usia serta faktor risiko masing-masing pasien.

USG payudara merupakan pemeriksaan payudara menggunakan alat ultrasonografi dengan memanfaatkan gelombang ultrasonik frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambaran organ dalam tubuh. Pemeriksaan ini bisa dilakukan pada usia di bawah 40 tahun.

Sementara itu, mammografi adalah pemeriksaan pencitraan medis untuk payudara menggunakan sinar-X. Metode ini direkomendasikan untuk perempuan di atas 40 tahun.

 

Skrining Kanker Serviks

Organ intim perempuan (Foto: Unsplash.com/Timothy Meinberg).

Untuk skrining kanker serviks, Denny mengungkapkan perempuan yang telah aktif melakukan hubungan seksual bisa dengan Pap Smear ThinPrep dan HPV DNA. Metode tersebut membantu mendeteksi perubahan sel abnormal pada leher rahim sekaligus mengidentifikasi infeksi Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi yang menjadi penyebab utama kanker serviks.

Bahkan, skrining rutin kanker serviks bisa mengenali tahap prakanker alias sebelum menjadi kanker. Ini adalah kondisi saat sel-sel di leher rahim mulai berubah tidak normal, tetapi belum berubah menjadi sel kanker atau menyebar. 

"Skrining rutin seperti Pap Smear atau pemeriksaan HPV sangat penting untuk mendeteksi perubahan sel sedini mungkin, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut,” ujar dokter yang sehari-hari praktik di Bethsaida Hospital Gading Serpong ini. 

Seperti Denny, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin beberapa waktu lalu juga menyebutkan kanker memiliki peluang kesembuhan hingga 90 persen jika diketahui sejak dini. 

"Bapak ibu gak usah khawatir, cancer itu curable dengan teknologi sekarang, yang penting ketahuan sejak dini, harus gak takut menerima kenyataan," tutur Budi dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI beberapa waktu lalu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya