Love Pink Punya Cara Unik Menguatkan Penyintas Kanker

Love Pink punya cara unik menguatkan penyintas kanker agar tetap percaya diri dan merasa tak sendiri.

Diterbitkan 21 September 2026, 16:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menghadapi kanker bukan hanya soal menjalani pengobatan. Bagi penyintas kanker, perjalanan tersebut juga membutuhkan kekuatan mental, rasa percaya diri, serta dukungan dari orang-orang yang memahami apa yang mereka alami. Hal inilah yang dirasakan anggota komunitas Love Pink.

Berada di tengah orang-orang yang pernah melalui pengalaman serupa membuat penyintas kanker merasa lebih diterima dan tidak sendirian dalam menghadapi perjalanan pengobatan. Vice Chairwoman Love Pink, Anita D. Sulistyowati, mengatakan, pengalaman yang sama menjadi salah satu kekuatan utama dalam komunitas.

Ketika anggota baru bercerita tentang ketakutan setelah pertama kali didiagnosis kanker, anggota lain dapat memberikan respons berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

"Kita pernah merasakan, kita pernah ada di posisi seperti teman kita yang baru bergabung tersebut. Jadi, saat mereka bercerita, kita pun menyambutnya karena kita paham, kita tahu. Jadi, mereka itu lebih merasa diterima," ujar Anita di sela-sela acara 'Mayapada Hospital Jakarta Selatan dan Lovepink Perkuat Kolaborasi untuk Komunitas Kanker Payudara' belum lama ini.

Menemukan Harapan dari Sesama Penyintas

Menurut Anita, kondisi tersebut membuat anggota baru memiliki ruang untuk berbagi tanpa merasa harus menjelaskan semuanya dari awal. Ketika muncul ketakutan setelah diagnosis, penyintas lain dapat menunjukkan bahwa masih ada harapan dan perjalanan hidup setelah kanker.

Anita mencontohkan anggota Love Pink yang mampu bertahan hingga 28 tahun setelah menghadapi kanker. Kisah tersebut menjadi penguat bagi anggota lain yang baru memulai perjalanan pengobatan.

"Banyak banget di Love Pink yang ternyata bisa survive segitu lama. Ada salah satu anggota Love Pink itu 28 tahun dia survive. Jadi, itulah mengapa akhirnya dia berani untuk bercerita," kata Anita.

Bagi Anita, keberadaan komunitas bukan hanya menjadi tempat untuk berbagi cerita. Love Pink juga berusaha membantu anggotanya mengubah cara pandang terhadap proses pengobatan kanker.

Salah satunya dengan menggunakan istilah yang lebih ringan untuk menggambarkan aktivitas selama menjalani pengobatan. Ketika menjalani kemoterapi, misalnya, anggota Love Pink menyebutnya sebagai party atau beauty treatment.

"Kalau kita mau chemo, kita bilangnya party atau beauty treatment. Kenapa party? Karena kan itu cairannya warna-warni. Jadi, kita ubah mindset. Kalau ke chemotherapy, ‘Oke, aku mau party, aku mau beauty treatment'," kata Anita.

Cara tersebut juga diterapkan dalam hal penampilan. Anggota komunitas didorong untuk tetap berdandan dan menggunakan lipstick ketika menjalani pengobatan.

Menurut Anita, berdandan bukan untuk memenuhi penilaian orang lain, melainkan untuk membangun rasa percaya diri dari dalam diri sendiri.

"Karena kita berdandan itu sebetulnya buat diri kita, ya, bukan buat orang lain. Kalau kita merasa kita segar, kita percaya diri," ujarnya.

Mengubah Rawat Inap Menjadi Staycation

Perubahan cara pandang juga terlihat ketika anggota Love Pink harus menjalani perawatan di rumah sakit. Mereka tidak menyebutnya sebagai rawat inap, melainkan staycation.

"Kalau kita mau menginap, kita enggak bilang rawat inap, loh. Kita bilangnya staycation, dong. Mindset kita berubah lagi," kata Anita.

Bagi Anita, penggunaan istilah tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, cara itu membantu menciptakan suasana yang lebih positif sehingga penyintas kanker merasa memiliki kendali dan tidak menghadapi perjalanan pengobatan seorang diri.

"Dan itu membuat teman-teman akhirnya percaya diri dan merasa bahwa kita enggak sendiri," pungkasnya.