Hati-Hati! Nyeri Sendi yang Sering Kambuh Bisa Mengarah ke Penyakit Ini

Rheumatoid arthritis bisa berawal dari nyeri sendi yang dianggap sepele. Kenali tanda dan gejalanya.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 12 Agustus 2026, 17:25 WIB
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, mengingatkan agar nyeri sendi berkepanjangan tidak disepelekan. (Foto: Pramita Tristiawati/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Nyeri sendi, encok, dan pegal linu kerap dianggap sebagai keluhan ringan akibat kelelahan, aktivitas berlebihan, atau cedera. Namun, jika nyeri berlangsung lama dan berulang, terlebih disertai bengkak serta kekakuan, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, mengatakan, keluhan tersebut bisa menjadi gejala rheumatoid arthritis (RA).

"RA ini penyakit reumatik autoimun kronis yang dapat menyebabkan peradangan pada sendi. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan, tapi di tahap awal sering diabaikan karena gejalanya terlihat sederhana," kata Sandra pada Rabu (12/8/2026).

Menurut Sandra, banyak pasien menyepelekan RA karena menganggap penyakit reumatik tidak berbahaya. Akibatnya, sebagian memilih mengonsumsi obat bebas daripada memeriksakan diri ke dokter.

"Sebenarnya, boleh saja kalau memang ada sakit reumatik atau sakit sendi, satu-dua kali minum obat bebas. Tapi kalau enggak membaik, segera cari tahu penyebab nyeri sendinya," ujar Sandra.

Dia, menjelaskan, penyakit reumatik memiliki lebih dari 100 jenis dan tidak hanya berkaitan dengan asam urat.

Oleh sebab itu, penyebab nyeri sendi perlu dipastikan agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat, termasuk dari dokter konsultan reumatologi.

Sebab, pasien RA kerap datang ketika kondisinya sudah terlambat dan terjadi perubahan bentuk sendi.

"Karena kebanyakan nanti datang ke dokter reumatologi sudah terlambat kondisinya, seperti bengkok. Pada kondisi ini pasien sudah tidak bisa melakukan aktivitas sederhana. Misalnya membuka kancing baju saja sudah susah, tidak bisa menulis, tidak bisa makan sendiri, hingga menyebabkan kaki bengkok," katanya.

Kenali Gejala Rheumatoid Arthritis

Sandra mengatakan bahwa salah satu gejala RA yang umum adalah nyeri dan kekakuan pada sendi, terutama tangan. Keluhan biasanya lebih terasa pada pagi hari setelah bangun tidur dan berangsur membaik setelah tubuh mulai bergerak.

"Misal, saat bangun tidur pagi, tubuh tiba-tiba kaku, nyeri, jadi tidak bisa beranjak dari tempat tidur selama 30 menit. Biasanya dimulai dari jari-jari serta pergelangan tangan dan simetris, maksudnya dirasakan sekaligus di tangan kanan dan kiri," kata Sandra.

Keluhan tersebut dapat berlangsung lebih dari enam minggu dan biasanya disertai nyeri, kemerahan, serta pembengkakan pada sendi. Jika mengalami tanda-tanda tersebut, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter.

RA juga lebih banyak dialami perempuan dibandingkan laki-laki, dengan perbandingan sekitar 3:1. Penyakit ini dapat muncul pada berbagai usia, tetapi rata-rata mulai terjadi pada usia 30–40 tahun.

Untuk memastikan diagnosis RA, dokter tidak hanya mengandalkan gejala. Pemeriksaan dapat meliputi tes darah seperti rheumatoid factor (RF), Anti-Citrullinated Protein Antibody (ACPA), dan anti-CCP.

Dokter juga akan menilai riwayat keluhan, melakukan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan pencitraan jika diperlukan.

Bisa Berkaitan dengan Kesehatan Gigi dan Gusi

Sandra menjelaskan bahwa penyebab pasti penyakit reumatik autoimun hingga kini belum diketahui. Namun, faktor genetik dan lingkungan diduga berperan dalam memicu penyakit tersebut.

"Faktor genetik ada, tapi ada juga karena kurang vitamin D, bahan kimia, kemudian infeksi bakteri, virus. Jadi, rheumatoid arthritis ini banyak dikaitkan dengan infeksi daerah gusi juga. Sehingga penting sekali kita menjaga kesehatan gusi dan gigi supaya kalau kita punya bakat untuk kena sakit ini, enggak jadi sakit beneran," tambahnya.

Selain itu, kebiasaan merokok juga dapat menjadi salah satu faktor pencetus, terutama pada orang yang memiliki predisposisi genetik.

Oleh sebab itu, Sandra mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan nyeri sendi yang berlangsung lama atau tidak kunjung membaik setelah mengonsumsi pereda nyeri.

"Jadi, jangan sepelekan nyeri sendi dalam waktu lama dan tidak reda bila mengonsumsi pereda nyeri satu sampai dua kali. Segera ke rumah sakit," pungkas Sandra.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya