Getah Gambir Punya Potensi Tak Terduga untuk Kesehatan Paru

Gambir mengandung katekin yang memiliki aktivitas antioksidan, antiradang, yang berpotensi menghambat proses pembentukan jaringan parut pada paru

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 13 Agustus 2026, 17:00 WIB
Ilustrasi jaringan parut di paru/unsplash @averey

Liputan6.com, Jakarta - Getah gambir berpotensi menghambat pembentukan jaringan parut yang menjadi ciri khas fibrosis paru. Temuan tersebut diperoleh dalam penelitian praklinis yang dilakukan peneliti IPB University menggunakan hewan percobaan yang mengalami fibrosis paru.    

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dokter spesialis paru Desdiani mengatakan saat ini masih sedikit opsi terapi untuk fibrosis paru. Padahal adanya jaringan parut di paru bisa mengganggu pernapasan. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencari bahan alam yang memiliki senyawa aktif yang bekerja pada banyak target penyakit. Gambir mengandung katekin yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiradang yang berpotensi menghambat proses pembentukan jaringan parut pada paru.

“Penelitian ini mengembangkan komposisi suspensi ekstrak getah kering gambir sebagai kandidat fibropreventif dan antifibrosis paru,” ujar Desdiani.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan model hewan yang mengalami fibrosis paru akibat induksi bleomisin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suspensi gambir mampu memperbaiki berbagai parameter peradangan, termasuk jumlah sel radang.

Menurut Desdiani, kebaruan inovasi ini terletak pada pemanfaatan ekstrak getah kering gambir dalam bentuk suspensi yang diformulasikan sebagai kandidat terapi fibrosis paru. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, invensi tersebut telah menunjukkan bukti praklinis mengenai potensi gambir dalam menghambat perkembangan fibrosis paru.

Ia menambahkan bahwa inovasi ini memiliki dampak strategis terhadap pengembangan komoditas lokal Indonesia. Gambir yang selama ini lebih dikenal sebagai komoditas perkebunan berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila dikembangkan menjadi bahan baku obat herbal berbasis bukti ilmiah.

“Indonesia merupakan salah satu produsen gambir terbesar di dunia. Pemanfaatan gambir sebagai kandidat obat herbal tidak hanya mendukung pengembangan terapi yang lebih aman dan terjangkau, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat industri obat herbal nasional,” jelasnya mengutip laman IPB. 

U

Dalam tahap pengembangan berikutnya, Dr dr Desdiani akan melanjutkan proses hilirisasi melalui uji klinis pada manusia guna mengevaluasi keamanan dan efektivitas suspensi gambir. 

Selain itu, ia juga akan memperkuat kolaborasi dengan petani gambir, rumah sakit, industri obat herbal, perguruan tinggi, dan pemerintah agar inovasi tersebut dapat berkembang menjadi fitofarmaka yang siap dimanfaatkan masyarakat secara luas

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya