Obesitas Adalah Penyakit yang Bisa Mengganggu Kesehatan Jantung

Obesitas adalah penyakit kronis yang dapat mengganggu kesehatan jantung dan meningkatkan risiko kardiovaskular.

Diterbitkan 29 September 2026, 14:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Obesitas bukan sekadar persoalan angka di timbangan. Kondisi ini merupakan penyakit kronis kompleks yang dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama di dunia dan menyumbang hampir satu dari tiga kematian. Sementara itu, sekitar 17 persen kematian akibat penyakit kardiovaskular secara global dikaitkan dengan obesitas.

Di Indonesia, sebuah studi juga menemukan bahwa responden dengan obesitas memiliki probabilitas 85 persen lebih tinggi untuk memiliki risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, mengatakan pemahaman mengenai obesitas kini telah berkembang. Obesitas tidak lagi hanya dipandang sebagai faktor risiko, tetapi sebagai penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan jantung dan pembuluh darah.

"Obesitas tidak lagi sekadar persoalan kelebihan berat badan. Pemahaman medis mengenai obesitas telah berkembang, dari sekadar faktor risiko menjadi penyakit kronis yang dapat berkontribusi terhadap gangguan pada jantung dan pembuluh darah," ujar Bobby.

Menurutnya, berbagai faktor yang menyertai obesitas, termasuk inflamasi kronis, dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan berkontribusi terhadap aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.

Jika penumpukan plak terjadi pada pembuluh darah koroner, aliran darah menuju otot jantung dapat berkurang sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Obesitas juga dapat berkaitan dengan gangguan irama jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia sekaligus perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengatakan obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium.

"Obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium melalui berbagai mekanisme. Penurunan berat badan yang dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan dapat membantu mengurangi frekuensi dan/atau durasi episode fibrilasi atrium, sekaligus memperbaiki faktor risiko kardiovaskular lainnya," kata Rizky.

Menjaga Berat Badan Bukan Perkara Mudah

Persoalannya, mengelola dan mempertahankan berat badan dalam jangka panjang bukan hal mudah. Studi ACTION APAC di Indonesia menunjukkan 68 persen orang dengan obesitas mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhasil mempertahankannya selama enam bulan atau lebih.

Dokter spesialis gizi klinik sekaligus Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia cabang Banten, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat kambuh.

"Karena itu, manajemen obesitas jangka panjang membutuhkan lebih dari sekadar kemauan keras (willpower). Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama, namun bagi sebagian orang diperlukan dukungan terstruktur dan opsi terapi tambahan yang efektif," kata Juwalita.

Salah satu pilihan terapi adalah terapi berbasis GLP-1 RA apabila terdapat indikasi medis dan dilakukan di bawah pengawasan dokter. Penanganan obesitas perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan setiap individu.

Dari perspektif kesehatan jantung, pentingnya penanganan obesitas juga didukung temuan studi SELECT.

Studi yang melibatkan lebih dari 17.000 orang dengan berat badan berlebih atau obesitas, memiliki penyakit kardiovaskular, dan tanpa diabetes tersebut menemukan terapi berbasis GLP-1 RA menurunkan risiko relatif kejadian kardiovaskular mayor (MACE) sebesar 20 persen dibandingkan plasebo.

"Pentingnya penanganan obesitas bagi kesehatan jantung juga didukung oleh temuan studi SELECT, yang melibatkan lebih dari 17.000 orang dengan berat badan berlebih atau obesitas, memiliki penyakit kardiovaskular, dan tanpa diabetes," kata Bobby.

 

Obesitas Perlu Ditangani Sejak Dini

Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman, menekankan pentingnya memahami obesitas secara lebih menyeluruh.

"Obesitas perlu dipahami bukan sekadar persoalan berat badan atau pilihan pribadi, melainkan penyakit kronis yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis hingga lingkungan. Karena itu, obesitas membutuhkan penanganan yang tepat, komprehensif, dan berkelanjutan sesuai kebutuhan setiap individu," ujar Riyanny.

Dia, menambahkan, masyarakat perlu memahami risiko obesitas dan tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pengelolaan yang sesuai.