Diet Terlalu Ketat demi Kurus Saat Nikah, Waspadai Dampaknya

Diet terlalu ketat demi cepat kurus sebelum menikah bisa berdampak pada tubuh. Apa saja risikonya?

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 16 Agustus 2026, 16:00 WIB
Diet terlalu ketat demi tampil kurus saat menikah sebaiknya dihindari. Dokter gizi dr. Erwin Christianto mengingatkan, penurunan berat badan terlalu cepat dapat mengganggu keseimbangan tubuh. (Ilustrasi/Copyright unsplash/Luis Tosta)

Liputan6.com, Jakarta - Keinginan tampil lebih ramping saat menikah membuat sebagian orang menjalani diet terlalu ketat. Tak jarang, pola makan ekstrem dipilih karena ingin mendapatkan hasil dalam waktu singkat.

Padahal, penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat berdampak pada keseimbangan tubuh. Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, mengingatkan agar upaya menurunkan berat badan tidak dilakukan secara berlebihan.

"Jadi, kalau penurunan berat badan yang terlalu ekstrem, terlalu cepat, maka dia akan menyebabkan ketidakseimbangan dari tubuh," ujar Erwin kepada Kesehatan Liputan6.com dalam sebuah kesempatan, Jumat, 14 Agustus 2026.

Menurut Erwin, bertambahnya berat badan umumnya berkaitan dengan penambahan lemak. Ketika jumlah lemak dalam tubuh meningkat, tubuh dapat mengeluarkan zat-zat imun yang kemudian merangsang berbagai bagian tubuh.

"Sehingga itulah yang akan menyebabkan gangguan kesehatan. Gula darah jadi naik, tekanan darah jadi naik, terjadi penimbunan lemak di pembuluh darah. Jadilah sumbatan di pembuluh darah," ujarnya.

Diet Terlalu Ketat Bisa Ganggu Hormon

Erwin juga menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap perubahan berat badan. Oleh sebab itu, ketika seseorang memaksakan penurunan berat badan secara cepat, kompensasi tubuh dapat menjadi kewalahan.

"Nah, kalau terlalu cepat kita menurunkan, maka kompensasi dari tubuh juga akan jadi overwhelm, itu kewalahan. Sehingga nanti bisa terjadi ketidakseimbangan hormonal," katanya.

Pada perempuan, salah satu dampaknya dapat terlihat dari siklus menstruasi. Erwin, mengatakan, menstruasi yang sebelumnya teratur bisa menjadi tidak teratur akibat penurunan berat badan yang terlalu cepat.

Dalam kondisi ekstrem, diet terlalu ketat bahkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius.

"Bahkan, dalam keadaan ekstrem, dia bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Kejang, autoimun, itu keadaan yang ekstrem yang terjadi karena penurunan badan yang terlalu cepat," ujar Erwin.

Penurunan berat badan secara drastis juga diketahui dapat membuat tubuh kehilangan air atau massa tubuh selain lemak, serta meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.

Oleh sebab itu, kata Erwin, diet ekstrem bukan pendekatan yang dianjurkan untuk mendapatkan berat badan ideal.

Kurus Bukan Berarti Harus Makan Sedikit

Erwin, menambahkan, anggapan bahwa ingin kurus berarti harus makan sesedikit mungkin juga perlu diluruskan. Menurutnya, pasien yang berkonsultasi dengan dokter gizi justru dapat memperoleh porsi makanan yang terlihat cukup banyak.

"Jadi, yang penting adalah makan itu harus sesuai dengan kebutuhan. Itu yang nomor satu. Sesuai dengan kebutuhan, nomor dua harus seimbang," ujarnya.

Makanan dengan kalori tinggi, lanjut Erwin, perlu dibatasi. Sementara makanan yang kalorinya tidak tinggi dapat dikonsumsi lebih banyak sehingga porsi makanan tetap terlihat cukup tanpa membuat asupan kalori berlebihan.

"Makanya kelihatannya banyak tapi secara kalori itu tidak terlalu banyak," katanya.

Ia menyebut makanan cepat saji dan makanan kemasan sebagai contoh makanan yang umumnya tinggi kalori.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya