ISPA Mengintai Anak Saat Musim Kemarau, Ini Penyebabnya

Musim kemarau bisa membuat anak lebih rentan ISPA. Dokter ungkap penyebab dan cara mencegahnya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 15 Agustus 2026, 12:00 WIB
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp mengingatkan orangtua untuk mewaspadai risiko ISPA pada anak selama musim kemarau. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp membagikan sejumlah kiat untuk mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada musim kemarau.

Nastiti mengatakan bahwa cuaca panas dan kering selama musim kemarau dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan, terlebih jika tubuh kekurangan cairan hingga mengalami dehidrasi. Kondisi tersebut dapat membuat mukosa atau selaput lendir di dalam saluran napas menjadi kering.

"Selaput lendir di saluran napas anak itu berfungsi untuk memfilter atau menyaring bahan-bahan yang masuk ke dalam saluran napas, termasuk bakteri, virus, kemudian juga polutan. Sehingga kalau fungsi dari selaput lendir ini berkurang, maka tentu akan meningkatkan risiko terjadinya ISPA," kata Nastiti dikutip dari Antara pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dokter yang berpraktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo itu menjelaskan bahwa rendahnya curah hujan pada musim kemarau membuat debu dan polutan lebih mudah beterbangan di udara. Paparan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk ISPA.

Selain itu, perbedaan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam, terutama pada awal musim kemarau, juga dapat memengaruhi daya tahan tubuh anak.

"Seringkali di awal-awal musim kemarau itu kan terjadi perbedaan suhu yang besar ya. Perbedaan panas di siang hari dan dingin di malam hari yang ekstrem ini juga bisa memengaruhi daya tahan tubuh anak sehingga mudah terkena ISPA," ujarnya.

Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Meski kondisi lingkungan di luar rumah tidak selalu dapat dikendalikan, risiko paparan polutan dapat dikurangi dengan membatasi aktivitas di luar rumah, terutama ketika udara sedang kering, berdebu, atau kualitas udaranya buruk.

Nastiti menyarankan masyarakat memantau indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) melalui aplikasi yang tersedia.

"Kalau kita lihat kualitas udaranya memburuk, sebaiknya batasi. Kalau harus keluar rumah saat udara di luar kurang ideal, kita sebisa mungkin menggunakan masker," ujar dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu.

Selain membatasi paparan polusi, perlindungan dari ISPA juga dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan menggunakan sabun serta menerapkan etika batuk untuk mengurangi risiko penularan penyakit.

Pastikan Tubuh Terhidrasi

Menurut Nastiti, salah satu hal terpenting selama musim kemarau adalah memastikan kebutuhan cairan tubuh tercukupi.

"Yang paling penting memang minum yang cukup. Hidrasi yang cukup, jangan sampai tubuh dalam kondisi dehidrasi. Karena dengan menjaga hidrasi yang baik, maka selain kita terhindar dari dehidrasi, selaput lendir yang melindungi saluran napas kita menjadi tetap lembap dan tetap berfungsi baik dalam melawan partikel-partikel yang masuk ke dalam saluran napas," ujarnya.

Daya tahan tubuh juga perlu dijaga dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang terdiri atas protein, karbohidrat, sayuran, dan buah-buahan.

Nastiti menyebut makanan yang mengandung vitamin C dan vitamin A dapat mendukung pemeliharaan sel dan selaput lendir saluran pernapasan.

Tak kalah penting, masyarakat perlu menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menghindari asap rokok, asap dari aktivitas memasak, pembakaran sampah, serta sumber polusi lainnya yang masih dapat dikendalikan.

BMKG Ingatkan Risiko ISPA

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai ancaman kesehatan, termasuk ISPA, selama musim kemarau tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7), mengatakan minimnya tutupan awan selama musim kemarau dapat memicu peningkatan suhu udara di berbagai wilayah.

Penurunan kualitas udara akibat debu serta potensi asap kebakaran selama musim kemarau juga dapat meningkatkan paparan terhadap penyakit pernapasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya