Doyan Begadang dan Ngemil Tengah Malam? Ini yang Terjadi pada Tubuh

Doyan begadang dan ngemil tengah malam? Kenali dampaknya bagi hormon dan metabolisme tubuh.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 18 Agustus 2026, 13:00 WIB
Ngemil tengah malam setelah begadang mungkin terasa sepele. Namun, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan hormon yang berperan dalam rasa lapar dan metabolisme tubuh. (Photo by Jonas Leupe on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Begadang hingga larut malam sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian anak muda, terutama pekerja yang harus mengejar deadline. Tak jarang, waktu terjaga tersebut juga diikuti dengan kebiasaan makan atau ngemil tengah malam.

Padahal, kebiasaan begadang dan ngemil tengah malam dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, menjelaskan, tubuh memiliki irama hormon yang mengikuti siklus harian atau sirkadian.

Menurutnya, saat seseorang tidur, hormon yang berkaitan dengan metabolisme seharusnya mulai menurun karena tubuh memasuki fase istirahat. Namun, kondisi berbeda terjadi ketika seseorang memaksakan diri untuk tetap terjaga hingga larut malam.

"Pada waktu orang tidur, hormon-hormon metabolismenya harusnya lagi turun mendarat. Karena diistirahatkan," ujar Yunir.

Dia, menjelaskan, ketika seseorang terus terjaga pada malam hari, hormon stres akan tetap aktif untuk mempertahankan kondisi tubuh agar tetap terjaga. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi hormon yang berkaitan dengan metabolisme, termasuk insulin dan kortisol.

"Jadi, kalau kita dipaksa melek sampai jam berapa pun, jadi hormon stres-nya wake up terus. Untuk menjaga supaya badan kita melek terus. Sehingga hormon-hormon kayak insulin, hormon kortisol itu akan tinggi," ujarnya.

Begadang Bisa Bikin Mudah Lapar

Peningkatan hormon tersebut juga dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar. Akibatnya, pekerja yang masih terjaga hingga malam berpotensi mencari camilan atau makanan siap saji.

"Pada waktu dia tinggi itu bikin orang lapar. Makannya sering ngemil malam hari gitu, ya?," kata Yunir.

Kebiasaan tersebut menjadi semakin berisiko apabila makanan yang dipilih memiliki kandungan kalori tinggi. Apalagi, aktivitas fisik pada malam hari umumnya tidak sebanyak pada siang hari.

Yunir juga menjelaskan bahwa tubuh memiliki irama hormon sirkadian. Pada pagi hari, hormon mulai meningkat seiring seseorang bangun dan beraktivitas.

Memasuki sore hingga malam, hormon tersebut secara alami mulai menurun karena tubuh bersiap untuk beristirahat. "Kalau kita paksa kita melek, dia dipacu lagi suruh naik. Nah, dapatnya jadi gangguan metabolik jadi tinggi," tambahnya.

Oleh sebab itu, menjaga waktu makan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang terbiasa tidur larut malam. Yunir menyebut pembatasan makan pada malam hari memiliki manfaat, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Bagi pekerja yang memang tidak dapat menghindari aktivitas malam, dia menyarankan agar konsumsi makanan tetap dijaga. Pilihan camilan dapat berupa buah dan air putih.

"Sebenarnya kalau tidak terhindari, ya pada waktu malam itu bangun, ya dijaga nih konsumsi yang aneh-aneh di sekitar. Mungkin camilannya buah, air putih," ujarnya.

Dia juga mengingatkan agar konsumsi buah tetap diperhatikan porsinya. Sebab, beberapa buah memiliki kandungan fruktosa yang cukup tinggi.

"Bagus semuanya, cuma kalau dimakan yang berlebihan, nantinya jumlah fructose-nya yang masuk pasti akan tinggi. Jadi harus dihitung-hitung juga," pungkas Yunir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya