Dating Violence adalah Kekerasan dalam Pacaran, Bentuknya Bisa Tak Terlihat

Dating violence adalah kekerasan dalam pacaran yang bentuknya tak selalu terlihat. Kenali tandanya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 19 Agustus 2026, 13:46 WIB
Dating violence atau kekerasan dalam pacaran tidak selalu meninggalkan luka fisik. Kekerasan dapat berupa tindakan verbal, emosional, seksual, hingga perilaku mengontrol pasangan. (Credit: unsplash.com/Christine)

Liputan6.com, Jakarta - Dating violence adalah kekerasan dalam pacaran yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan verbal, emosional, fisik, hingga seksual. Yang perlu diwaspadai, kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan luka atau tanda yang terlihat secara kasatmata.

Texas Tech University (TTU) menjelaskan bahwa kekerasan dalam hubungan intim (intimate partner/relationship violence) merupakan istilah yang mencakup kekerasan dalam pacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga, dikutip pada Kamis, 19 Agustus 2026.

Kekerasan dalam pacaran biasanya merujuk pada berbagai bentuk kekerasan yang terjadi antara dua orang yang sedang menjalani hubungan pacaran. Sementara itu, kekerasan dalam rumah tangga dapat terjadi antara dua orang yang tinggal bersama, terlepas dari dinamika hubungan pacaran.

Secara lebih luas, kekerasan dalam hubungan intim dapat terjadi di antara dua orang yang memiliki hubungan dekat. Hubungan tersebut tidak harus melibatkan keintiman seksual.

Dating Violence Bukan Cuma Kekerasan Fisik

Dating violence sering kali muncul karena pelaku ingin mengendalikan pikiran, keputusan, atau tindakan pasangannya. Dengan kata lain, kekerasan dalam hubungan lebih berkaitan dengan kekuasaan dan kontrol daripada cinta atau gairah.

Pelaku dapat menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kendali tersebut, termasuk kekerasan emosional, verbal, fisik, dan seksual.

Bentuk kekerasan yang tidak terlihat secara fisik juga perlu diperhatikan. Misalnya, pasangan terus-menerus merendahkan, mengintimidasi, mengancam, mengontrol, atau membuat seseorang merasa tidak berharga.

Kekerasan dalam hubungan juga dapat terjadi dalam bentuk digital, termasuk penyalahgunaan teknologi untuk mengontrol atau mengawasi pasangan.

Dating Violence pada Remaja

Kekerasan dalam pacaran menjadi perhatian khusus pada kelompok remaja. Teen Dating Violence Awareness Month (TDVAM) diperingati setiap Februari untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong upaya pencegahan kekerasan dalam pacaran pada anak muda.

Tema TDVAM 2025 adalah 'Respect That!', yang menekankan pentingnya memperlakukan pasangan dengan martabat dan rasa hormat.

Data National Intimate Partner and Sexual Violence Survey menunjukkan, lebih dari 70 persen perempuan dan lebih dari 60 persen laki-laki pertama kali mengalami kekerasan dari pasangan intim sebelum berusia 25 tahun.

Selain itu, satu dari empat perempuan pertama kali mengalami kekerasan dari pasangan intim sebelum berusia 18 tahun. Sebanyak 49 persen perempuan juga mengalami pemerkosaan saat masih di bawah umur.

Pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak dan remaja dapat memberikan dampak jangka panjang. Anak dan remaja yang mengalami kekerasan seksual juga lebih berisiko mengalami kekerasan serupa ketika dewasa.

Hubungan Sehat Perlu Diajarkan Sejak Dini

Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi terbuka, rasa aman, kepercayaan, dan rasa hormat. Karena itu, anak dan remaja perlu mendapatkan edukasi mengenai hubungan sehat dan consent sejak dini dengan bahasa yang sesuai usia.

Anak muda belajar mengenai hubungan dari orang-orang di sekitarnya. Orang tua, pengasuh, dan orang dewasa lainnya dapat memberikan contoh dengan menghormati batasan dan pilihan anak serta membiasakan komunikasi yang sehat.

Pada akhirnya, mengenali dating violence sejak awal penting dilakukan karena kekerasan tidak selalu terlihat. Perilaku yang dianggap sebagai bentuk perhatian atau rasa sayang bisa saja menjadi tanda adanya keinginan untuk mengontrol pasangan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya