Liputan6.com, Jakarta - Menjalin hubungan dengan anak perempuan pertama dapat menghadirkan dinamika tersendiri. Menurut terapis Internal Family Systems (IFS), Karissa Mueller, kebiasaan mengurus banyak hal sendiri sejak kecil dapat membuat sebagian perempuan kesulitan menerima bantuan dari pasangan saat dewasa.
Melansir tulisan Mueller di Good Woman Therapy pada Rabu (19/8/2026), anak sulung perempuan mungkin terlihat sebagai sosok yang mampu menangani berbagai persoalan sehari-hari. Dari sudut pandang pasangan, dia tampak baik-baik saja karena dapat mengambil keputusan dan memastikan semuanya tetap berjalan.
Advertisement
Namun, kemampuan tersebut tidak selalu berarti ia benar-benar merasa baik-baik saja. Mueller menjelaskan bahwa sebagian perempuan sulung terbiasa mengandalkan diri sendiri karena sejak kecil merasa tidak memiliki 'tempat berlindung'.
Akibatnya, meminta bantuan, menyampaikan ketidaksetujuan, atau mengungkapkan perasaan dan pikirannya dapat terasa sulit, bahkan ketika pasangan sebenarnya ingin membantu.
Pola tersebut dapat muncul dalam hubungan melalui rasa lelah, kewalahan, kesal, hingga menarik diri. Menurut Mueller, respons tersebut tidak selalu berarti seseorang sedang marah kepada pasangannya.
Ada rasa takut yang mungkin mendasarinya. Ketika terbiasa menanggung berbagai hal seorang diri, menerima bantuan dari orang lain justru dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman. Bahkan, dia mungkin merasa harus segera membalas bantuan yang diterima.
Mueller menggambarkan pengalaman tersebut seperti tangan yang terlalu lama berada dalam suhu dingin. Ketika akhirnya terkena air hangat, proses mengembalikan rasa hangat justru dapat terasa menyakitkan.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang yang sudah lama terbiasa mandiri mulai menerima perhatian dan bantuan dari orang lain.
Meski demikian, Mueller menekankan bahwa dinamika ini bukan sepenuhnya tanggung jawab perempuan maupun pasangannya. Pola tersebut dapat berkaitan dengan pengalaman masa lalu, keluarga, hingga lingkungan sosial.
Dia juga menjelaskan bahwa sesuatu yang sebenarnya baik terkadang dapat terasa menyusahkan, termasuk ketika seseorang sedang berada dalam proses penyembuhan. Kondisi ini dapat membuat pasangan anak perempuan sulung merasa kesulitan memahami cara memberikan perhatian dan dukungan yang tepat.
Oleh sebab itu, memahami pola tersebut dapat menjadi langkah awal bagi pasangan untuk lebih terbuka terhadap pengalaman, perasaan, dan kebutuhan satu sama lain.