Tak Cuma Tulang, Kecelakaan Juga Bisa Sebabkan Cedera Saraf

Salah satu tandanya adalah kesemutan, kebas atau mati rasa pada anggota tubuh.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 20 Agustus 2026, 09:00 WIB
Dokter spesialis bedah saraf, Ferry Senjaya dari Siloam Hospitals TB Simatupang Jakarta bicara tentang masalah pada saraf tepi yang bisa terjadi karena trauma seperti kecelakaan.

Liputan6.com, Jakarta - Jatuh atau kecelakaan misalnya terjatuh dari motor tidak hanya dapat menyebabkan cedera hingga patah tulang. Trauma juga bisa menyebabkan kerusakan pada saraf tepi.

Gangguan pada saraf dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk menggerakkan anggota tubuh maupun merasakan sensasi. Namun, untuk orang awam keluhannya terkadang sulit dibedakan dengan cedera pada tulang atau otot.

Dokter spesialis bedah saraf, Ferry Senjaya dari Siloam Hospitals TB Simatupang Jakarta, mengatakan cedera pada tulang atau otot umumnya membuat seseorang masih dapat menggerakkan bagian tubuh yang mengalami cedera, tetapi disertai rasa nyeri.

Sementara itu, gangguan saraf dapat ditandai dengan keluhan yang berbeda. Salah satunya ditandai dengan kelemahan hingga tidak mampu menggerakkan bagian tubuh tertentu.

"Misalnya jari jadi enggak bisa digerakkin, berarti ada sesuatu yang menyebabkan 'kabel' dari sana ke sini terganggu," tutur Ferry.

Tanda lainnya adalah terasa kebas dan kesemutan bahkan mati rasa. Untuk menegakkan diagnosis tentu dokter akan melakukan pemeriksaan klinis pada pasien ditunjang dengan pemeriksaan lainnya. 

 

Pasien Perlu Kenali Tanda Gangguan Saraf Tepi

Kenali kondisi tubuh usai kecelakaan. Bila merasa tangan atau kaki merasa kebas, mati rasa, kesemutan sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter seperti saran Dr dr Ferry Senjaya SpBS dari Siloam Hospitals TB Simatupang Jakarta.

Ferry menekankan, pasien tidak perlu menentukan sendiri apakah keluhan yang muncul disebabkan oleh tulang, otot, atau saraf. Namun, pasien perlu mengenali tanda yang patut diperiksakan lebih lanjut.

"Kalau misalnya suatu kondisi trauma kemudian masih ada gejala yang mengganggu, tentunya mesti dievaluasi. Dari sisi pasien mungkin dia bilang tangan saya lemas, tangan saya kebas, atau kaki misalnya. Ini mesti dievaluasi," jelas pria yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan ini.

Ferry mengingatkan pemeriksaan sejak awal penting. Nanti dokter akan melihat apakah kondisi saraf perlu tindakan operasi atau tidak. Karena tidak semua gangguan saraf perlu operasi.

"Karena kita harus nilai juga. Apakah si saraf ini dia bisa recovery dengan sendirinya atau tidak. Kalau dia bisa recover dengan sendirinya enggak harus operasi," tuturnya. 

Namun, pada kondisi tertentu misalnya tidak bisa dipulihkan atau putus maka perlu tindakan operasi. 

"Tapi kalau kita nilai dari awal ini, saraf ini enggak pulih nih. Dia enggak bakal bisa balik nih. Nah kita harus melakukan tindakannya lebih cepat, lebih baik," tutur Ferry.

Saraf membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali menuju bagian tubuh yang menjadi targetnya. Menurut Ferry, pertumbuhan saraf berlangsung sekitar 1 milimeter per hari.

"Jadi bukan berarti setelah operasi besoknya sudah langsung bisa menggerakkan tangannya," katanya.

Semakin jauh jarak antara lokasi cedera atau sambungan saraf dengan otot yang menjadi target, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya