Menkes: Patah Tulang Banyak Dialami Korban Gempa NTT

Menkes Budi sebut operasi patah tulang sudah bisa dilakukan di RS lapangan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 20 Agustus 2026, 13:06 WIB
Menkes Budi berbincang dengan salah satu pasien yang telah jalani operasi patah tulang di Ruteng, NTT. (Foto: Dok Kemenkes)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut kondisi patah tulang banyak dialami korban gempa NTT bermagnitudo 7,7.

Budi mengungkapkan bahwa pasien yang mengalami patah tulang sudah bisa menjalani operasi di rumah sakit lapangan yang telah dibangun untuk memberikan pelayanan darurat di sana. 

"Itu (rumah sakit lapangan) sudah beroperasi kemarin, dan sudah bisa melakukan operasi. Terutama patah tulang karena banyak sekali yang patah tulang di sini (menunjuk area dada), sini (bawah perut), sekarang sudah beroperasi dua rumah sakit itu," kata Budi ditemui usai kunjungan skrining tuberkulosis (TB) gratis pada siswa SMA A. Wahid Hasyim, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (20/8/2026) mengutip Antara.

Budi menjelaskan, sekitar 40 keluarga telah dilayani di dua rumah sakit lapangan tersebut. Rumah sakit lapangan yang  dimaksud yakni di Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Aeramo, Kabupaten Nagekeo. 

"Kami laporkan ada dua rumah sakit lapangan yang kami kirimkan. Di Rumah Sakit Ruteng karena cukup parah dan hari ini telah melakukan operasi di tenda, termasuk juga di Rumah Sakit Aeramo Nagekeo, kita operasikan hari ini, sudah berjalan. Dua rumah sakit ini membantu puskesmas-puskesmas yang terdampak gempa," kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Bencana Kemenkes Sumarjaya.

Identifikasi Puskesmas yang Terdampak Parah

Kemenkes juga bekerja sama dengan Basarnas untuk mengidentifikasi puskesmas-puskesmas yang terdampak cukup parah dan sulit terjangkau, misalnya puskesmas di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai, serta Puskesmas Dampek di Manggarai Timur.

"Daerah di kedua puskesmas ini sangat sulit. Oleh karena itu kami mengirimkan tenaga medis darurat atau Emergency Medical Team (EMT) untuk memberikan layanan di sana dan mengevakuasi masyarakat yang memang perlu dirujuk di rumah sakit," tutur Sumarjaya dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu (19/8/2026).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya