Liputan6.com, Kota Kupang - Pada 22 Agustus 2026, saya ke RS Komodo Labuan Bajo, menyerahkan bantuan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jakarta ke PDPI Cabang NTT. Sumbangan diterima oleh Dr. David Dwi Putera, Spesialis Paru di RS ini. Di seluruh Pulau Flores ada 3 Dokter Spesialis Paru, di Labuan Bajo, Maumere, dan Larantuka.
Saya menyerahkan sumbangan ini di tenda di halaman Rumah Sakit. Memang, walaupun bangunan RS masih baik, tapi ketika gempa 15 Agustus 2026, goncangan cukup keras sehingga semua pasien dikeluarkan ke halaman RS, dan sampai 22 Agustus 2026 sebagian masih ada di tenda, walaupun sebagian lain sudah kembali ke gedung rawat inap.
Advertisement
Saya dan Dr. David sempat visite 2 pasien di tenda, seorang dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan seorang lagi dengan Pneumonia yang tadinya keadaan sepsis dan sekarang sudah membaik.
Secara umum, sehari-hari ada sekitar 10 orang pasien paru di rawat inap di RS ini, sebagian adalah Tuberkulosis.
Dr. David menangani 2 orang pasien TB Resisten Obat sesuai hasil Tes Cepat Molekuler (TCM), tapi memang belum ada fasilitas untuk mendeteksi resistensi lanjutannya.
Untuk pelayanan Paru di RS ini tersedia alat spirometri, tapi sebenarnya diperlukan alat Bronkoskopi yang mereka belum mempunyainya. Mudah-mudahan RS Labuan Bajo akan dapat dilengkapi alat Bronkoskopi karena memang amat diperlukan bagi pelayanan kedokteran Paru dan Respirasi sehari-hari.
Karena saya datang bersama istri saya yang Dokter THT, maka kami ketahui pula bahwa di RS Komodo Labuan Bajo belum ada Dokter THT.
Prof. Tjandra Yoga Aditama
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)