Cynthia @Janelleandmom Bagikan Cara Mendorong Anak Tanpa Membuatnya Tertekan

@Janelleandmom belajar membedakan dorongan dan tekanan saat mendampingi Janelle mengikuti les catur.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 06 September 2026, 18:00 WIB
Cynthia, pemilik akun Instagram @Janelleandmom, membagikan pengalamannya mendampingi Janelle. Ia belajar bahwa orang tua perlu tahu kapan mendorong anak dan kapan harus memberi ruang. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menjadi orang tua bukan hanya soal memberikan yang terbaik untuk anak. Ada kalanya, keinginan orang tua agar anak berkembang secara optimal justru tanpa disadari berubah menjadi tekanan. Hal tersebut menjadi salah satu proses yang dijalani Cynthia, momfluencer pemilik akun Instagram @Janelleandmom, dalam mendampingi putrinya, Janelle.

Cynthia mengaku masih terus belajar menemukan batas antara mendorong anak (pushing) dan memberikan tekanan (pressuring). Menurutnya, kedua hal tersebut terlihat mirip, tapi memiliki perbedaan yang penting dalam pengasuhan.

"Ketika kita mau kasih yang terbaik buat anak itu tanpa sadar, kadang-kadang itu tuh menjadi sebuah pressure, itu menjadi sebuah ekspektasi ke anak. Karena kan kita mikirnya ini yang aku kasih ke kamu ini yang terbaik, loh," kata Cynthia.

Menurut Cynthia, orang tua tetap boleh mendorong anak untuk mencoba sesuatu yang dirasa baik bagi perkembangannya. Namun, dorongan tersebut sebaiknya disertai dengan dukungan dan kesediaan orang tua untuk menemani anak dalam prosesnya.

"Maksudnya kita bilang, ‘I know it's hard, tapi aku yakin kamu bisa. Dan aku akan menemani kamu di perjalanan itu'," ujarnya di acara 'Growing Little Minds: The Science Behind Every Child’s Potential' pada Sabtu, 5 September 2026.

Sebaliknya, tekanan muncul ketika orang tua memiliki ekspektasi bahwa anak harus berhasil hanya karena orang tua merasa anak mampu melakukannya.

"Sedangkan pressuring itu lebih ke, ‘Aku tahu ini susah, tapi aku tahu kamu bisa kok.’ Karena aku expect kamu bisa," kata Cynthia.

Pengalaman Janelle Ikut Les Catur

Cynthia kemudian memberikan contoh dari pengalaman Janelle. Awalnya, Janelle sendiri yang meminta mengikuti les catur. Cynthia pun mendukung keinginan tersebut.

Namun, setelah beberapa kali mengikuti les, Janelle ternyata tidak menyukainya. Cynthia sempat tetap mendorong karena melihat catur sebagai aktivitas yang baik untuk perkembangan kognitif anak.

Menurutnya, catur dapat membantu perkembangan kemampuan problem solving, sekaligus mengajarkan anak menghadapi kekalahan dan kemenangan.

"Kita push dulu, tapi at one point itu dia becoming toxic gitu, ya. Maksudnya dia juga stressful banget. Exhausted lah kayaknya juga, ya," ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Cynthia dan keluarga kemudian melakukan evaluasi. Setelah mencoba selama sekitar tiga hingga empat bulan, mereka akhirnya memutuskan menghentikan sementara les catur.

"Mungkin memang this is not the time for it. Mungkin nanti kita bisa balik lagi les catur. Tapi for the time being, setelah tiga sampai empat bulan kita coba. It doesn't work. Yaudah, kita stop," kata Cynthia.

Berhenti Bukan Berarti Anak Gagal

Cynthia, pemilik akun Instagram @Janelleandmom, membagikan pengalamannya mendampingi Janelle. Ia belajar bahwa orang tua perlu tahu kapan mendorong anak dan kapan harus memberi ruang. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Bagi Cynthia, keputusan untuk berhenti tidak berarti Janelle adalah anak yang mudah menyerah atau gagal. Begitu pula dirinya sebagai orang tua tidak berarti gagal karena berhenti mendorong anak.

Justru, keputusan tersebut menjadi kesempatan bagi Cynthia untuk kembali memahami kondisi dan kebutuhan Janelle.

"Jadi mungkin memang harus mencoba dan menemukan fine line. Between pushing and pressuring. And knows when to push. Knows when to step back,” ujar Cynthia.

Menurutnya, orang tua perlu mengetahui kapan waktunya mendorong anak dan kapan harus mundur sejenak. Memberikan ruang bukan berarti menyerah, melainkan memberi kesempatan bagi anak untuk bernapas dan mengungkapkan apa yang dirasakannya.

"Karena di proses itu kita benar-benar, apa ya, mengenal anak lagi gitu. Di dalam proses itu. Kamu kasih percaya ke dia," kata Cynthia.

Dengan kepercayaan tersebut, anak juga dapat belajar bahwa orang tua tidak selalu memaksakan keinginannya. Anak memiliki ruang untuk mengatakan ketika dirinya sudah tidak sanggup, sementara orang tua tetap hadir untuk mendukung.

"Dan dia juga jadi percaya kalau benar lagi ternyata, ‘My mom nggak give me pressure yang terlalu berlebih'. Dan ngasih aku waktu bernapas juga. Bisa bernapas untuk aku bisa bilang aku nggak sanggup. Dan mamanya percaya," pungkas Cynthia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya