Tanpa Disadari, 5 Kebiasaan Ini Bikin Orang Tua Terluka

Lima kebiasaan anak dewasa ini tanpa disadari bisa membuat hubungan dengan orang tua semakin renggang.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 19:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki usia dewasa, anak biasanya mulai memiliki kehidupan dan kesibukan sendiri. Pekerjaan, pasangan, pertemanan, hingga keluarga baru membuat waktu bersama orang tua tidak lagi sesering ketika masih tinggal serumah.

Perubahan ini merupakan bagian dari proses menjadi mandiri. Namun, beberapa kebiasaan yang dianggap sepele justru dapat membuat orang tua merasa diabaikan atau menciptakan jarak secara emosional.

Mengutip YourTango pada Senin (31/8/2026), pekerja sosial berlisensi Joslyn Jelinek menjelaskan bahwa hubungan orang tua dan anak yang telah dewasa dapat renggang akibat masalah komunikasi dan kurangnya batasan yang sehat.

Karena itu, mengenali kebiasaan yang berpotensi mengganggu hubungan dapat membantu orang tua dan anak membangun komunikasi yang lebih baik.

1. Mengabaikan Telepon dan Pesan

Kesibukan membuat anak terkadang tidak langsung membalas pesan atau mengangkat telepon orang tua. Namun, komunikasi sederhana tetap penting untuk menjaga kedekatan.

Mengirim pesan, menelepon, berbagi foto, atau sekadar mengabarkan aktivitas sehari-hari dapat membuat orang tua tetap merasa terhubung dengan kehidupan anak.

Meski telah memiliki pekerjaan dan keluarga sendiri, meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan orang tua dapat membantu menjaga hubungan tetap dekat.

2. Tidak Melibatkan Orang Tua dalam Momen Penting

Menjadi mandiri bukan berarti harus sepenuhnya menjauh dari keluarga. Tidak memberi tahu atau melibatkan orang tua dalam momen penting, seperti ulang tahun, pindah rumah, atau pencapaian tertentu, dapat membuat mereka merasa terabaikan.

Anak tetap dapat menjalani kehidupan mandiri sekaligus menjaga kedekatan dengan orang tua. Salah satunya dengan berinisiatif menghubungi atau mengajak mereka menghabiskan waktu bersama.

3. Terus Mempermasalahkan Konflik Masa Lalu

Membicarakan pengalaman masa kecil atau konflik lama tidak selalu buruk. Percakapan yang terbuka dan penuh empati justru dapat membantu orang tua dan anak memahami pengalaman masing-masing.

Namun, jika pembicaraan berubah menjadi tuduhan atau terus menyalahkan orang tua atas berbagai masalah yang dialami saat ini, hubungan dapat semakin renggang.

Psikolog Jeffrey Bernstein menekankan pentingnya batasan dan komunikasi yang sehat untuk menjaga hubungan serta kesehatan emosional kedua pihak.

4. Tidak Menanyakan Kabar Orang Tua

Anak yang telah dewasa terkadang terlalu fokus pada pekerjaan, pasangan, atau kehidupan pribadi hingga lupa menanyakan kabar orang tua.

Padahal, komunikasi sederhana seperti menanyakan kondisi atau aktivitas mereka dapat membuat orang tua merasa diperhatikan dan dihargai.

Sebuah studi dari University of Virginia, Amerika Serikat, yang dikutip YourTango, menemukan hampir 30 persen orang tua berharap dapat menjadi 'sahabat' dengan anak mereka yang telah dewasa.

5. Cuek dan Mengabaikan Perasaan

Kurangnya komunikasi bukan satu-satunya hal yang dapat membuat hubungan orang tua dan anak renggang. Sikap meremehkan obrolan, jarang menunjukkan kasih sayang, tidak memberi kabar tentang kehidupan, hingga terus mengkritik apa yang dilakukan orang tua juga dapat memengaruhi kedekatan emosional.

Psikolog Nick Wignall menjelaskan bahwa emosi yang tidak divalidasi dapat membuat seseorang merasa tidak didengar, dihargai, atau dipahami.

Dalam hubungan orang tua dan anak dewasa, kondisi tersebut dapat memicu rasa kesal dan memperlebar jarak emosional.

Pada akhirnya, menjadi dewasa memang berarti membangun kehidupan yang mandiri. Namun, kemandirian tidak harus membuat seseorang kehilangan kedekatan dengan orang tua.

Menjaga komunikasi, menghargai batasan, menunjukkan perhatian, dan memberi ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan perasaan dapat membantu mempertahankan hubungan keluarga yang sehat dan nyaman.