5 Tips Dokter Tirta Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau

Abu vulkanik Anak Krakatau mulai melanda sejumlah wilayah. Simak 5 tips Dokter Tirta di sini.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 06 September 2026, 08:42 WIB
Paparan abu vulkanik Anak Krakatau perlu diwaspadai karena dapat mengganggu saluran pernapasan. dr. Tirta menyarankan penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan. (KLY/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam. Pada Minggu (6/9/2026) pagi, sejumlah unggahan di media sosial menunjukkan abu vulkanik anak Krakatau telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk Depok dan Bintaro.

Masyarakat yang terdampak abu vulkanik Krakatau perlu mewaspadai dampaknya terhadap kesehatan, terutama saluran pernapasan. Dokter Tirta membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Gunakan Masker Saat Beraktivitas di Luar Ruangan

Dokter Tirta menyarankan masyarakat yang berada di wilayah terdampak untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, meskipun abu yang terlihat tipis.

"Kebetulan dulu saya pernah terdampak dari abu Gunung Kelud ya, abu Gunung Merapi. Nah, yang pertama adalah kalian kalau ke mana-mana aktivitas outdoor, walaupun abunya tipis, itu harus memakai masker," kata Tirta dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dr.tirta pada Minggu, 6 September 2026.

Menurut Tirta, abu vulkanik yang terlalu sering terhirup dapat menyebabkan reaksi alergi dan gangguan pada saluran pernapasan bagian atas. Pada kondisi parah, paparan tersebut bahkan dapat menyebabkan bronkitis.

"Kenapa? Karena abunya itu kalau terhirup terlalu sering ke dalam saluran pernapasan, itu bisa menyebabkan reaksi alergi dan bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan bagian atas. Bahkan, pada kondisi parah bisa menyebabkan bronkitis," ujarnya.

Jangan Menyapu Abu Vulkanik

Cara membersihkan abu vulkanik di rumah dan halaman juga perlu diperhatikan. Dr. Tirta mengingatkan masyarakat agar tidak menyapu abu secara langsung karena dapat membuatnya kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

"Yang kedua adalah kalau kalian mau bersihin abu yang ada di rumah, di halaman, jangan disapu beneran, itu tambah terbang, tambah sesak napas dan batuk-batuk," ujar Tirta.

Dia menyarankan abu yang menempel di permukaan rumah dan halaman dibersihkan menggunakan air.

Bersihkan Wajah Jika Terkena Abu

Jika abu vulkanik Krakatau mengenai wajah, Tirta menyarankan segera membersihkannya menggunakan pembersih wajah.

"Terus yang ketiga, kalau kena muka, itu segera gunakan facial wash yang proper. Jangan langsung kegesek, karena bisa baret-baret, serius, coy," tambahnya.

Dia juga meminta masyarakat tidak khawatir jika mencium bau yang berbeda di lingkungan sekitar.

"Dan keempat, maklumi kalau baunya itu agak aneh ya, namanya juga abu vulkanik," katanya.

Sementara Waktu, Pilih Olahraga Indoor

Masyarakat yang terbiasa berolahraga di luar ruangan juga disarankan untuk sementara beralih ke aktivitas indoor. Hal ini dilakukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik yang dapat terhirup saat berolahraga.

"Terus buat teman-teman yang hobi berolahraga outdoor, diganti dulu di indoor ya. Daripada Anda berisiko terhirup abu vulkanik semakin banyak," ujar Tirta.

Namun, bagi mereka yang tetap ingin berolahraga di luar ruangan, penggunaan masker dapat menjadi pilihan.

"Kecuali Anda olahraga outdoor yang mau pakai masker. Itu aja kalau dari saya, salam sehat dan tetap stay safe," pungkasnya.

 

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Cipeng | TIRTA (@dr.tirta)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya