Waspada Abu Anak Krakatau, Guru Besar FKUI Ungkap Cara Melindungi Pernapasan

Anak Krakatau hujan abu, Guru Besar FKUI ungkap risiko bagi paru-paru dan cara mencegahnya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 06 September 2026, 09:44 WIB
Hujan abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau perlu diwaspadai. Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto membagikan tips melindungi saluran pernapasan dari paparan abu. (dok. Annie Spratt/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Hujan abu vulkanik dari aktivitas anak Krakatau tengah menghantui sejumlah wilayah di Indonesia. Kondisi ini perlu diwaspadai karena abu vulkanik yang terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan mencapai paru-paru.

Profesor sekaligus Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, memberikan sejumlah tips yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Menurut Agus, dampak abu vulkanik terutama berkaitan dengan iritasi. Abu vulkanik memiliki partikel yang sangat halus dan bersifat iritatif sehingga dapat menyebabkan gangguan pada kulit, mata, saluran napas bagian atas seperti hidung, hingga saluran napas bagian bawah dan paru-paru.

"Oleh karena itu, upaya pencegahannya adalah melalui tiga langkah. Satu adalah pencegahan primer, dua sekunder, tiga tersier," ujar Agus saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com melalui sambungan telepon pada Minggu, 6 September 2026.

1. Pencegahan Primer

Pencegahan primer dilakukan untuk mencegah abu vulkanik masuk ke tubuh dan mengurangi risiko gangguan kesehatan. Salah satu caranya adalah menggunakan alat pelindung diri (APD) ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Untuk melindungi mata, masyarakat disarankan menggunakan kacamata karena paparan abu vulkanik dapat menyebabkan mata merah dan iritasi.

Sementara itu, kulit dapat dilindungi dengan mengenakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang agar paparan abu tidak langsung mengenai kulit.

Perlindungan yang tidak kalah penting adalah menggunakan masker. Idealnya, masyarakat menggunakan respirator yang memiliki kemampuan menyaring partikel halus, seperti N95.

"Biasanya kita sebagai respirator. Contohnya N95. Tapi juga bisa merek lain yang memiliki kemampuan memfiltrasi partikel-partikel halus. Jadi tidak harus merek itu, tetapi bisa yang lain yang memiliki kemampuan," ujar Agus.

Jika N95 atau respirator sejenis tidak tersedia, masyarakat tetap disarankan menggunakan masker yang umum digunakan. Menurut Agus, yang terpenting adalah tetap menggunakan masker dan memilih masker dengan kemampuan filtrasi terbaik yang tersedia.

Selain melindungi diri saat berada di luar rumah, masyarakat juga perlu mencegah abu vulkanik masuk ke dalam rumah. Sebisa mungkin, aktivitas dilakukan di dalam ruangan dengan kondisi jendela dan pintu tertutup.

Celah pada pintu atau jendela juga dapat ditutup, misalnya menggunakan kain basah, untuk mengurangi kemungkinan abu masuk ke dalam rumah.

Jika tersedia, penggunaan air purifier juga dapat membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Aktivitas di luar ruangan sebaiknya diminimalkan selama kondisi masih dipenuhi abu vulkanik. Jika harus keluar, masyarakat perlu menggunakan APD secara lengkap.

Selain itu, Agus menyarankan masyarakat menggunakan kendaraan tertutup seperti mobil. Ketika berada di dalam mobil, jendela sebaiknya ditutup dan AC digunakan dalam mode recirculate, yaitu udara di dalam kabin diputar kembali.

"Jangan dari luar ke dalam. Termasuk AC yang di rumah, itu juga recirculate, dari dalam ke dalam," kata Agus.

Pakaian dan barang-barang yang terpapar abu vulkanik setelah digunakan di luar juga perlu segera dibersihkan. Jika pakaian sedang dijemur di luar ketika terjadi hujan abu, pakaian tersebut sebaiknya dicuci kembali menggunakan air mengalir.

Setelah dicuci, pakaian sebaiknya dijemur di dalam ruangan yang tidak terkontaminasi abu.

Jika seseorang terlanjur terpapar abu vulkanik tanpa menggunakan APD, Agus mengingatkan agar tidak mengucek mata apabila terkena abu. Mata dan wajah sebaiknya segera dicuci menggunakan air. Tangan juga perlu dicuci hingga bersih agar partikel abu yang menempel dapat terangkat.

 

2. Pencegahan Sekunder

Hujan abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau perlu diwaspadai. Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto membagikan tips melindungi saluran pernapasan dari paparan abu. (Foto: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)

Langkah kedua adalah pencegahan sekunder berupa deteksi dini. Masyarakat perlu memperhatikan berbagai keluhan yang muncul setelah beraktivitas di luar ruangan dan terpapar abu vulkanik.

"Misalnya kita sudah keluar, kena debu. Habis itu kita garuk-garuk kulitnya, mata kita jadi merah. Atau misalnya jadi keluhan batuk, pilek, sakit tenggorokan. Dampak dari itu," ujar Agus.

Jika muncul keluhan setelah terpapar abu vulkanik, deteksi dini menjadi penting. Masyarakat dapat melakukan pertolongan awal dan, jika keluhan tidak membaik atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, segera berkonsultasi dengan dokter atau mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

"Deteksi dini penting bila ada keluhan. Segera lakukan pertolongan. Kalau tidak bisa pertolongan dengan obat bebas, bisa segera ke dokter, ke fasilitas kesehatan untuk dapat penanganan lebih cepat," ujar Agus.

 

3. Pencegahan Tersier

Hujan abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau perlu diwaspadai. Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto membagikan tips melindungi saluran pernapasan dari paparan abu. (Photo by Towfiqu Barbuiya on Unsplash)

Pencegahan tersier terutama perlu diperhatikan oleh orang-orang yang sudah memiliki penyakit penyerta atau penyakit dasar, seperti asma, penyakit paru kronis, penyakit jantung, maupun bronkitis.

Paparan abu vulkanik dapat memicu kekambuhan atau memperburuk keluhan pada kelompok tersebut. Karena itu, mereka perlu melakukan perlindungan yang lebih ketat selama terjadi paparan abu vulkanik.

Mereka juga perlu memastikan obat-obatan yang biasa digunakan selalu tersedia dan mudah dijangkau.

"Orang-orang yang sudah punya penyakit dasar diusahakan lebih ketat lagi upaya penjaganya. Terus menyediakan obat. Obat-obat pertolongan yang selama ini dipakai harus siap," kata Agus.

Misalnya, penderita asma perlu memastikan obat asmanya tersedia. Begitu pula orang dengan penyakit jantung atau penyakit kronis lainnya perlu memastikan obat rutin yang diresepkan dokter tidak sampai habis.

Pencegahan tersier juga penting bagi masyarakat yang sudah mengalami keluhan setelah terpapar abu vulkanik. Jika mulai mengalami batuk, pilek, atau keluhan lainnya, kondisi tersebut tidak sebaiknya dibiarkan tanpa penanganan.

"Kalau misalnya Anda sudah kena dampak, masa sudah jadi batuk-batuk, pilek, terus tidak berobat. Itu salah. Penjagaan tersier, yang sudah punya gejala-gejala keluhan segera berobat sedikit mungkin supaya tidak tambah berat," kata Agus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya