Masker Dibasahi Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau? Dokter: Fungsinya Berkurang

Dokter paru ingatkan masker yang basah malah berkurang fungsinya untuk melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik Anak Krakatau.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 07 September 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi masker KN95. (dok. Unsplash.com/Markus Winkler)

Liputan6.com, Jakarta - Ada anggapan bahwa masker perlu dibasahi agar lebih efektif melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, dokter menegaskan cara tersebut tidak direkomendasikan, terutama karena masker yang basah justru dapat berkurang efektivitasnya.

Dokter spesialis paru, Feni Fetriani Taufik, mengatakan tidak ada rekomendasi untuk membasahi masker sebelum digunakan menghadapi paparan abu vulkanik.

“Tidak ada rekomendasi seperti itu. Masker bedah, masker kesehatan malah berkurang fungsinya jika basah,” ujar Feni lewat pesan tertulis kepada Kesehatan Liputan6.com. 

Hal senada disampaikan dokter spesialis paru yang juga Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Profesor Erlina Burhan. Menurutnya, membasahi masker yang digunakan justru dapat membuat debu lebih mudah menempel pada masker.

“Kalau masker dibasahi, debunya malah lengket,” kata Erlina.

Erlina menjelaskan, penggunaan air justru dianjurkan untuk mengurangi debu beterbangan saat membersihkan lingkungan, bukan dengan membasahi masker yang sedang digunakan.

“Yang dibasahi itu pekarangan rumah agar debu tidak terus beterbangan. Membersihkan kaca, jendela, pintu juga harus dibasahi dulu agar debu tidak beterbangan,” jelasnya lewat pesan tertulis.

Sementara itu, jika masker yang digunakan sudah dipenuhi debu, masyarakat disarankan segera menggantinya dengan masker baru. Masker lama dapat dibasahi sebelum dibuang untuk mencegah abu atau debu kembali beterbangan saat proses pembuangan.

Pilih Masker dengan Kemampuan Filtrasi Terbaik

Bila kondisi memaksa harus keluar rumah, maka harus memakai masker. Idealnya, masyarakat menggunakan respirator yang memiliki kemampuan menyaring partikel halus, seperti N95.

"Biasanya kita sebagai respirator. Contohnya N95. Tapi juga bisa merek lain yang memiliki kemampuan memfiltrasi partikel-partikel halus. Jadi tidak harus merek itu, tetapi bisa yang lain yang memiliki kemampuan," ujar dokter spesialis paru Prof Agus Dwi Susanto.

Jika N95 atau respirator sejenis tidak tersedia, masyarakat tetap disarankan menggunakan masker yang umum digunakan. Menurut Agus, yang terpenting adalah tetap menggunakan masker dan memilih masker dengan kemampuan filtrasi terbaik yang tersedia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya