Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mengancam Paru hingga Mata

Waspada abu vulkanik Anak Krakatau yang bisa mengganggu paru, mata, hingga kulit.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 07 September 2026, 11:43 WIB
Aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai, termasuk paparan abu vulkanik. Partikel abu yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi penderita penyakit paru. (Liputan6.com/Pool/Susi Air)

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas gunung api seperti Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai bukan hanya karena potensi erupsi, tapi juga paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan. Jika terhirup dalam jumlah banyak, partikel abu dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, bahkan pada orang yang sebelumnya sehat.

Dokter, epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, M.Sc.PH., mengatakan dampak kesehatan akibat abu vulkanik paling banyak diteliti pada saluran pernapasan.

"Biasanya secara akut, dalam waktu langsung paparan itu kalau debunya banyak, akan menimbulkan iritasi. Hidung dan tenggorokan, batuk kering, rasa nggak nyamanlah di dada," ujar Dicky dalam keterangan resmi yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Senin, 7 September 2026.

Keluhan tersebut dapat semakin parah jika paparan abu vulkanik berlangsung lebih sering atau lebih lama. Pada penderita asma, bronkitis, maupun penyakit paru obstruktif kronik, paparan abu juga berpotensi memperburuk kondisi yang sudah ada.

Gejalanya dapat berupa batuk berdahak, mengi, hingga sesak napas yang berlangsung cukup lama.

Abu Vulkanik Juga Mengganggu Mata dan Kulit

Bahaya abu vulkanik tidak hanya mengancam saluran pernapasan. Mata juga dapat terdampak karena partikel abu memiliki sifat abrasif seperti kaca kecil.

Dicky mengatakan sejumlah penelitian melaporkan konjungtivitis akut dan abrasi kornea akibat paparan abu vulkanik. Gejalanya dapat berupa mata kemerahan, terasa terbakar, sensitif terhadap cahaya, terasa seperti berpasir, gatal, hingga mengeluarkan sekret yang lengket dan berair.

Sementara itu, paparan abu vulkanik pada kulit dapat menyebabkan iritasi dan kemerahan. Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan ketika abu masih dalam kondisi baru dan dapat bersifat asam.

"Ini yang bisa menyebabkan risiko infeksi sekunder akibat garukan pada kulit yang teriritasi. Ada yang disebut juga efek tidak langsung. Ini yang sering terlupakan," kata Dicky.

Abu Vulkanik Bisa Berdampak pada Sumber Air

Dampak abu vulkanik juga dapat terjadi secara tidak langsung. Abu yang masih segar dan memiliki lapisan asam dapat terbawa air hujan dan berpotensi mencemari sumber air.

Karena itu, tempat penampungan air sebaiknya ditutup ketika terjadi hujan abu untuk mencegah masuknya abu dan kontaminan ke dalam air.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya