Jangan Samakan Masker untuk Abu Anak Krakatau dan COVID-19

Masker untuk abu Anak Krakatau ternyata tak bisa disamakan dengan masker COVID-19. Simak alasannya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 07 September 2026, 12:23 WIB
Abu vulkanik Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah. Penggunaan masker menjadi salah satu cara melindungi saluran pernapasan, tetapi jenis masker yang digunakan tidak bisa disamakan dengan COVID-19. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Paparan abu vulkanik Anak Krakatau membuat penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi saluran pernapasan. Namun, tidak semua jenis masker memberikan tingkat perlindungan yang sama saat masyarakat terpapar abu dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Dokter, epidemiolog, dan peneliti Indonesia dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, M.Sc.PH., mengatakan masker respirator bersertifikasi industri seperti N95 atau FFP2 merupakan pilihan paling optimal untuk mengurangi paparan partikel abu vulkanik.

"Yang saya rekomendasikan maskernya adalah masker respirator bersertifikasi industri setara N95 atau FFP2 di standar Eropa. Jadi, bukan masker bedah biasa," kata Dicky dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Senin, 7 September 2026.

Menurut Dicky, penelitian dari Durham University yang secara khusus menguji perlindungan terhadap abu vulkanik menunjukkan masker setara N95 atau N99 memiliki efisiensi filtrasi lebih dari 98 persen. Sementara itu, masker bedah memiliki efisiensi sekitar 89–91 persen dan masker kain sekitar 44 persen.

Kerapatan Masker di Wajah Jadi Kunci

Meski kemampuan menyaring partikel penting, efektivitas masker untuk menghadapi abu Anak Krakatau tidak hanya ditentukan oleh bahan penyaringnya. Kerapatan masker saat digunakan juga menjadi faktor yang sangat penting.

Dicky menjelaskan bahwa kebocoran udara dari sisi masker dapat membuat partikel abu masuk melalui celah di sekitar hidung, pipi, atau dagu.

"Filter yang bagus di atas kertas itu tidak berarti perlindungan nyata di wajah," ujarnya.

Masker N95 atau respirator yang dipakai dengan longgar bahkan dapat memberikan perlindungan yang tidak optimal. Oleh sebab itu, masker harus terpasang rapat menutupi hidung, mulut, hingga dagu.

Dicky juga mengingatkan bahwa masker dengan perlindungan paling tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik jika tidak nyaman sehingga sering dilepas.

Dalam penelitian di kawasan Gunung Sinabung, masker setara N95 terbukti paling efektif. Namun, sekitar 33 persen masyarakat justru memilih masker sederhana berbentuk flat-fold karena dianggap lebih nyaman dan lebih mudah digunakan untuk bernapas.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara masker yang paling efektif secara teori dan masker yang benar-benar digunakan masyarakat secara konsisten.

Jangan Samakan dengan Masker untuk COVID-19

Dicky juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyamakan penggunaan masker untuk abu vulkanik Anak Krakatau dengan masker untuk COVID-19.

Menurutnya, penelitian mengenai masker pada masa pandemi COVID-19 umumnya berkaitan dengan droplet, aerosol, dan partikel biologis. Sementara itu, abu vulkanik memiliki karakteristik ukuran dan perilaku partikel yang berbeda.

"Jadi, itu riset yang soal ukuran partikel biologis atau aerosol, bukan partikel abu vulkanik yang berukuran dan berperilaku berbeda. Jadi, ini kalau bicara pertanyaan landasannya jangan ke konteks masker COVID itu," tambahnya.

Oleh sebab itu, Dicky tetap merekomendasikan penggunaan respirator N95 untuk menghadapi paparan abu vulkanik. Namun, bagi penderita penyakit paru kronis, penggunaan respirator sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

"Jadi, artinya tetap N95. Untuk penderita penyakit paru kronis, saya gunakan respirator yang sudah juga dikonsultasikan dengan dokter. Karena pada pasien seperti penderita penyakit paru kronis, dia bisa mengalami resistensi napas pada N95," kata Dicky.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya