13 Rekomendasi IDAI untuk Lindungi Anak dari Abu Vulkanik Anak Krakatau

Abu vulkanik juga mengandung gas-gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan CO yang dapat mengiritasi dan memicu peradangan saluran pernapasan anak.

Diterbitkan 07 September 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau telah meluas di beberapa wilayah. Kondisi ini dapat mengganggu kesehatan anak, terutama saluran pernapasan. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan dalam situasi darurat seperti ini, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.

"Ditengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," kata Ketua PP IDAI, dokter Piprim Basarah Yanuarso, SpA Subsp Kardio (K) dalam pesan tertulis yang diterima Liputan6.com.

Piprim mengungkapkan bahwa abu vulkanik bukanlah debu biasa. Abu vulkanik terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif.

Bila terhirup, partikel-partikel ini dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan. Lebih jauh, abu vulkanik juga mengandung gas-gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang dapat memperparah iritasi dan memicu peradangan pada sistem pernapasan anak.

Untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, berikut 13 rekomendasi Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI:

  1. Mengungsikan anak menjauhi lokasi yang terkena dampak letusan (paling ideal)
  2. Tetap tinggal di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat bila kondisi udara di lingkungan buruk, yaitu lebih dari 100 pada ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara). Kondisi ini  dapat dilihat di situs pemantau kualitas udara.
  3. Jauhkan anak saat membersihkan abu.
  4. Saat membersihkan rumah, jauhkan anak.
  5. Jika tidak memungkinkan, gunakan lap atau kain basah, atau basahi lantai/ objek yang hendak dibersihkan dengan air agar debu tidak beterbangan saat dibersihkan dengan kain atau lap.
  6. Matikan alat yang menghisap udara luar masuk rumah seperti AC. Lalu, atur mode air recirculation/closed vent. Jangan nyalakan kipas angin karena justru akan meniupkan partikel debu yang sudah mengendap di permukaan furnitur atau lantai ke udara, dan akan terhirup.
  7. Gunakan masker khusus anak pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun dan pastikan terpasang dengan baik. Pastikan orangtua mengajarkan cara memakainya.
  8. Berikan pelindung mata pada anak, dapat berupa kacamata anak.
  9. Kenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan langsung pada kulit sensitif anak.
  10. Siapkan obat-obatan rutin bila anak punya riwayat asma/alergi saluran napas.
  11. Hindarkan anak dari polusi asap tambahan di dalam rumah (asap rokok, asap dapur).
  12. Pastikan anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi.
  13. Segera datang ke rumah sakit bila terdapat gejala sesak napas yang ditandai dengan laju napas meningkat, ada tarikan dinding dada ke dalam, dan saturasi oksigen di bawah 94% dengan oksimeter jari.