Masker Dibasahi Saat Abu Vulkanik Anak Krakatau, Benarkah Lebih Efektif?

Abu Vulkanik Anak Krakatau menyebar, masker jadi perlindungan penting. Tapi, bolehkah dibasahi?

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 07 September 2026, 13:06 WIB
Di tengah paparan Abu Vulkanik Anak Krakatau, muncul saran membasahi masker agar lebih efektif. Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, menjelaskan alasan cara tersebut justru tidak dianjurkan untuk masker respirator. (KLY/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Paparan abu vulkanik Anak Krakatau membuat masyarakat perlu lebih waspada, terutama terhadap gangguan pada saluran pernapasan. Salah satu cara yang banyak disarankan untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik erupsi Anak Krakatau adalah menggunakan masker.

Namun, di media sosial beredar saran agar masker dibasahi terlebih dahulu supaya lebih efektif menyaring abu vulkanik. Benarkah cara tersebut aman? Profesor sekaligus Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, mengatakan, masker respirator justru tidak disarankan untuk dibasahi.

"Kalau secara teori untuk kita, kalau misalnya dia memfiltrasi debu terhadap benda mati, misalnya kita dilapisi dengan barang yang dikasih air, itu disarankan. Tapi kalau buat kita yang makhluk biologis, kalau partikel maskernya dilapisi air, itu akan menimbulkan problem berikutnya," ujar Agus saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com pada Minggu, 6 September 2026.

Menurut Agus, masker yang dibasahi akan menjadi lembap. "Kalau dia lembap, dia punya potensi tumbuh kuman. Kalau tumbuh kuman, akhirnya malah justru meningkatkan risiko infeksi saluran napas," tambahnya.

Masker N95 Lebih Disarankan

Untuk menghadapi paparan abu vulkanik, Agus menyarankan masyarakat menggunakan masker respirator yang mampu memfiltrasi partikel-partikel halus. Salah satunya adalah masker N95.

"Masker yang lebih ideal, paling bagus yang dapat memfiltrasi partikel-partikel halus itu. Biasanya kita sebagai respirator. Contohnya N95," katanya.

Meski demikian, masyarakat tidak harus menggunakan merek tertentu. Masker lain yang memiliki kemampuan filtrasi sebagai respirator juga dapat digunakan.

"Tapi juga bisa merek lain yang memiliki kemampuan. Jadi tidak harus merek itu. Tapi bisa yang lain yang memiliki kemampuannya," ujar Agus.

Jika masker respirator tidak tersedia, masyarakat tetap disarankan menggunakan masker yang umum dipakai. Menurut Agus, menggunakan masker tetap lebih baik daripada tidak menggunakan perlindungan sama sekali.

"Kalau tidak tersedia, bisa pakai masker yang umum dipakai. Yang penting kita menggunakan masker. Minimal pakai masker. Tapi juga usahakan pakai yang memiliki kemampuan terbaik," katanya.

Masker Respirator Perlu Rutin Diganti

Selain tidak membasahi masker, Agus mengingatkan pentingnya mengganti masker respirator secara rutin, terutama bagi orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

"Kalau kita sering beraktivitas di luar, misalnya kita pakai masker respirator, apakah N95 atau merek lain yang juga memiliki kemampuan filtrasi sebagai respirator, maka pemakaiannya itu paling lama misalnya 6–8 jam," jelasnya.

Jika digunakan untuk bekerja atau beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lebih lama, masker perlu segera diganti.

"Kalau kita kerja di luar lebih, habis, itu mesti diganti. Kenapa mesti diganti? Karena kalau tidak diganti, dia menempel terus di hidung kita, ini juga lembap. Karena area saluran napas kita itu juga lembap," kata Agus.

Dia menjelaskan bahwa sekret dari hidung juga dapat membuat bagian dalam masker menjadi basah dan lembap. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, risiko infeksi dapat meningkat.

"Jadi kita tidak menyarankan pakai masker yang dibasahi, punya risiko infeksi berikutnya. Pakai respirator, tapi rutin diganti," pungkas Agus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya