Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa, Dokter Jantung: Bisa Picu Peradangan Pembuluh Darah

Paparan abu vulkanik dapat berdampak pada sistem kardiovaskular, terutama pada orang dengan riwayat penyakit jantung.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 07 September 2026, 09:30 WIB
Warga Pulau Sebesi bersihkan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau

Liputan6.com, Jakarta - Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau masih dirasakan di beberapa wilayah seperti Lampung, Banten, DKI Jakarta serta sebagian Jawa Barat. Selain bisa memengaruhi saluran pernapasan, kulit dan mata, paparan abu vulkanik dapat berdampak pada sistem kardiovaskular.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Vito Anggarino Damay, mengatakan partikel abu vulkanik tidak dapat disamakan dengan debu biasa. Paparan abu dapat menyebabkan cedera dan peradangan pada endotel, yakni lapisan halus yang melapisi bagian dalam pembuluh darah.

“Partikel-partikel dari abu vulkanik itu bukan seperti debu biasa. Dia membuat kerusakan, injuri, inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah,” ujar Vito dalam video di akun Instagram pribadinya yang dibagikan ke Liputan6.com.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena serangan jantung maupun stroke pada dasarnya berkaitan dengan masalah pada pembuluh darah.

“Abu vulkanik bisa merusak endotel, lapisan halus pembuluh darah. Itu adalah pemicu sumbatan pembuluh darah, termasuk jantung,” jelasnya.

Maka dari itu, masyarakat dengan riwayat penyakit penyakit jantung atau pembuluh darah perlu lebih waspada bila muncul keluhan usai terdampak abu vulkanik. Jika setelah terpapar abu vulkanik muncul sesak napas secara mendadak, nyeri dada, terlebih disertai keringat dingin, masyarakat sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri.

“Jangan self diagnose. Lebih baik segera dilihat apakah mungkin perlu EKG, cek enzim jantung, atau pemeriksaan lain sesuai evaluasi klinis,” pesan Vito.

Cara Meminimalisasi Paparan Abu Vulkanik

Ilustrasi membersihkan rumah yang kena abu vulkanik (AI Generated)

Untuk mengurangi risiko paparan, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH) itu menyarankan masyarakat sebisa mungkin melakukan aktivitas di dalam rumah, terutama ketika kondisi udara dipenuhi abu vulkanik.

Penggunaan penyaring udara juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Jika harus keluar rumah, masyarakat perlu menggunakan masker. Dalam kondisi paparan abu yang tinggi, Vito menyarankan penggunaan masker N95.

Lalu, ia juga menyarankan untuk tidak melakukan aktivitas fisik berat, terutama di luar ruangan selama abu vulkanik masih beterbangan.

Sementara ketika membersihkan abu yang sudah mengendap, masyarakat perlu melakukannya secara hati-hati. Abu dapat sedikit dibasahi agar tidak mudah beterbangan, dengan tetap menggunakan masker dan pelindung mata selama proses pembersihan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya