Liputan6.com, Jakarta - Menangis merupakan respons yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Air mata dapat keluar ketika seseorang merasa sedih, marah, frustrasi, tetapi juga saat merasakan bahagia, bangga, atau emosi kuat lainnya.
Mengutip Cleveland Clinic pada Senin (7/9/2026), air mata basal berfungsi menjaga mata tetap lembap, sedangkan air mata refleks atau iritan membantu membersihkan mata ketika terkena benda yang mengganggu, seperti debu atau partikel luar.
Advertisement
Sementara itu, air mata emosional berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Psikolog kesehatan Grace Tworek, PsyD, menjelaskan bahwa menangis dan ekspresi emosional lainnya dapat muncul sebagai respons terhadap peningkatan emosi. Namun, menangis bisa memunculkan manfaat bergantung pada situasinya.
“Sebagai orang dewasa, umumnya kita sering mengekspresikan emosi yang besar dengan menangis. Itu sebagai bentuk respons terhadap lonjakan emosi, dan merupakan bagian yang menjadikan manusia unik,” ujarnya.
1. Meredakan Stres
Salah satu manfaat menangis yang kerap dibahas adalah membantu meredakan stres. Ketika seseorang mengalami peristiwa yang menggetarkan emosional, kondisi tersebut dapat memicu respons fight or flight.
Setelah menangis, sistem saraf parasimpatik yang berkaitan dengan kondisi tubuh untuk beristirahat dan mencerna dapat mengambil alih.
Perubahan tersebut dapat membantu seseorang keluar dari kondisi tegang sehingga pikiran terasa lebih jernih dan beban emosional sedikit berkurang.
2. Memperkuat Hubungan
Sementara itu, menangis dalam situasi yang membuat nyaman juga dapat mempererat hubungan dengan orang lain.
Saat seseorang menangis di hadapan orang yang dipercaya, hal tersebut mencerminkan kerentanan dan membuka kesempatan untuk berbagi emosi.
Menurut Tworek, ketika seseorang merasa nyaman memproses suatu peristiwa bersama orang lain dan membicarakan perasaannya, pengalaman tersebut dapat menciptakan hubungan antarmanusia yang lebih kuat.
3. Mengurangi Rasa Sakit
Selain itu, menangis juga disebut dapat membantu mengurangi rasa sakit. Menurut Tworek, rasa sakit dan emosi sering kali saling berkaitan.
Ketika seseorang sedang mengalami rasa sakit sekaligus merasa cemas, frustrasi, atau kewalahan, kondisi tersebut dapat terasa semakin berat.
Maka dari itu, menangis dapat membantu meredam respons fight or flight, membuat seseorang lebih mampu mengatur emosinya dan menjadi lebih rileks.
Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan gate control theory, yang menjelaskan bahwa kondisi mental dapat memengaruhi bagaimana seseorang menghadapi rasa sakit.
Meski demikian, menangis tidak otomatis membuat semua orang merasa lebih baik. Kondisi, tempat, dan orang-orang di sekitar dapat memengaruhi masa tersebut.
Sebagian orang merasa lebih nyaman menangis sendirian, sementara lainnya justru merasa lebih lega ketika mendapat dukungan dari orang terdekat.
Faktor Lingkungan
Cara seseorang memandang tangisan juga dapat dipengaruhi lingkungan tempat ia tumbuh.
Seseorang yang tumbuh dalam keluarga yang terbuka terhadap emosi mungkin lebih mudah menerima tangisan, sedangkan mereka yang dibesarkan dengan anggapan bahwa emosi sebaiknya ditahan bisa merasa malu atau tidak nyaman ketika menangis.
Karena itu, menangis pada dasarnya merupakan bagian normal dari respons emosional manusia, juga sebagai bentuk “penyembuhan” atas sesuatu yang tidak mengenakkan.
Manfaatnya pun dapat muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan yang sehat, serta kondisi yang membuat aman dan nyaman untuk mengelola emosi.