Liputan6.com, Jakarta - Nyeri lutut tidak selalu disebabkan oleh osteoartritis. Cedera ligamen atau meniskus, peradangan, gangguan otot, dan masalah lain pada struktur sendi juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
Dokter spesialis ortopedi konsultan yang berfokus pada penanganan masalah panggul dan lutut Prof Nicolaas C.Budhiparama PhD mengatakan untuk mengetahui penyebab nyeri lutut pemeriksaan biasanya dimulai dengan memahami pola keluhan, riwayat cedera, aktivitas yang memicu nyeri, serta dampaknya terhadap kemampuan bergerak.
Advertisement
Maka dari itu pemeriksaan fisik membantu dokter menilai gerakan dan kestabilan sendi. Kemudian rontgen atau MRI dapat digunakan apabila diperlukan. Hasil pencitraan tetap perlu dibaca bersama kondisi pasien karena perubahan yang tampak pada gambar belum tentu sejalan dengan tingkat nyeri atau keterbatasan aktivitas seseorang.
“Bukan hanya seberapa sakit lutut terasa, tetapi apakah keluhan tersebut sudah mulai mengubah cara seseorang bergerak. Kalau sebelumnya bisa naik tangga atau berjalan jauh lalu perlahan mulai menghindarinya, itu sudah menjadi informasi penting bagi dokter untuk mencari tahu penyebabnya,” jelas dokter yang sehari-hari praktik di RS Medistra Jakarta.
Banyak Kasus Nyeri Lutut Tidak Ditangani dengan Operasi
Prof Nicolaas mengatakan pada banyak kasus, nyeri lutut dapat ditangani tanpa operasi. Penanganan dapat berupa penyesuaian aktivitas, latihan penguatan otot, fisioterapi, pengelolaan berat badan, maupun pemberian obat sesuai kondisi pasien.
Ketika operasi penggantian sendi mulai dipertimbangkan, keputusan tidak perlu dilakukan secara terburu-buru.
Pasien mesti memahami alasan operasi dianjurkan, lalu alternatif yang masih tersedia, risiko, hasil yang dapat diharapkan, serta proses pemulihan sebelum pasien memberikan persetujuan tindakan.
Total Knee Replacement, Kapan Dilakukan?
Prof Nicolaas mengatakan total knee replacement (TKR) biasanya dipertimbangkan ketika gangguan sendi sudah berat dan memengaruhi fungsi.
Beberapa pertimbangan TKR diantaranya nyeri muncul setiap hari, kekakuan sendi yang signifikan, lutut tidak stabil ketika berjalan, perubahan bentuk kaki menjadi O atau X, hingga rasa sakit yang sudah membatasi aktivitas sehari-hari.
Lewat TKR, bagian permukaan sendi yang telah rusak dipersiapkan agar dapat dipasangi komponen pengganti.
Lalu, pada tulang paha dipasang komponen metal, sedangkan bagian tulang kering menggunakan komponen metal dan bantalan khusus yang memungkinkan sendi kembali bergerak. Penempatan komponen tersebut perlu memperhatikan bentuk tulang, posisi sendi, serta keseimbangan jaringan di sekitar lutut setiap pasien.
Pada operasi dengan bantuan robotik, perencanaan dapat dilakukan secara virtual sebelum pemotongan tulang dimulai. Teknologi ini membantu dokter menentukan posisi implan, menilai keseimbangan ligamen, serta melakukan verifikasi setelah pemotongan tulang untuk melihat apakah hasilnya sesuai dengan rencana operasi.
“Operasi penggantian sendi lutut membutuhkan presisi yang tinggi, tetapi teknologi saja tidak cukup. Dalam penggunaan robotik, maka dokter dapat melakukan perencanaan secara virtual, melihat keseimbangan ligamen, hingga memverifikasi hasil pemotongan ketika operasi berlangsung," kata Prof Nicolaas.
Namun, bukan berarti operasi robotik menyerahkan kendali pada robot. Prof Nicolaas menegaskan dokter yang tetap pegang kendali berdasarkan anatomi dan kondisi setiap pasien.
"Maka pengalaman dan kemampuan operator tetap menjadi bagian yang sangat penting dalam menentukan hasil operasi,” jelas Prof. Nicolaas.
Sekitar lima jam setelah operasi, pasien umumnya sudah mulai menjalani latihan berdiri dan berjalan secara bertahap. Dalam beberapa hari berikutnya, alat bantu seperti tongkat atau crutches biasanya masih digunakan selama sekitar tiga hingga lima hari, tergantung kondisi masing-masing pasien.
Untuk mendukung kemampuan berjalan, maka dilanjutkan dengan fisioterapi.