Liputan6.com, Jakarta - Nyeri sendi kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan yang tidak bisa dihindari. Namun, pada wanita berusia 50 tahun ke atas, risiko mengalami kerusakan tulang rawan dan nyeri lutut dapat meningkat, terutama setelah memasuki masa menopause.
Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah primary osteoarthritis atau osteoartritis primer. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan alami pada tubuh, termasuk penurunan kadar hormon estrogen setelah menopause.
Estrogen diketahui berperan dalam menjaga kesehatan jaringan di sekitar sendi. Ketika kadarnya menurun secara drastis setelah menopause, perlindungan alami pada sendi ikut berkurang. Akibatnya, tulang rawan lebih rentan mengalami kerusakan akibat gesekan dan aktivitas sehari-hari.
Advertisement
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, subspesialisasi kaki dan pergelangan kaki, Ihsan Oesman, Sp. OT (K), menjelaskan kaitan antara menopause, penurunan estrogen, dan osteoartritis primer dalam diskusi “Memahami Hubungan Obesitas, Osteoarthritis Lutut, dan Kualitas Hidup” yang digelar Novo Nordisk Indonesia di Jakarta, 28 Agustus 2026.
“Kalau primer, itu karena memang hanya spesifik terkena pada kaum wanita, di mana apabila sudah terjadi dalam kondisi di atas 50 tahun, dan juga dia berkenaan dengan masalah menopause, hormon estrogen sudah berkurang,” jelas Ihsan.
Menurut dia, estrogen secara alami berperan dalam menjaga kondisi jaringan sendi. Ketika kadar hormon tersebut menurun pada masa menopause, risiko terjadinya osteoartritis primer dapat meningkat.
Bedanya Osteoartritis Primer dan Sekunder
Osteoartritis (OA) merupakan kondisi yang ditandai dengan kerusakan tulang rawan dan perubahan pada membran sinovial, yaitu jaringan yang membantu melumasi sendi. Kondisi ini dapat terjadi pada berbagai persendian, termasuk tangan, panggul, dan lutut.
Secara umum, osteoartritis dapat dibedakan menjadi primer dan sekunder.
Osteoartritis primer terjadi tanpa adanya penyebab spesifik seperti cedera atau penyakit tertentu yang mendahului kerusakan sendi. Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada wanita, terutama setelah usia 50 tahun dan memasuki masa menopause.
Sementara itu, secondary osteoarthritis atau osteoartritis sekunder terjadi akibat faktor atau kondisi tertentu yang sebelumnya sudah memengaruhi sendi.
Pemicu osteoartritis sekunder antara lain riwayat trauma, seperti patah tulang atau cedera sendi, penyakit peradangan seperti rematik, serta kelainan struktur lutut yang dapat berbeda pada setiap orang.
“Sedangkan untuk yang secondary, itu biasanya berubah shifting banyak pada pria. Pada usia di atas 40 tahun. Berarti artinya kalau dia secondary, harus ada pencetusnya, antara lain trauma, ataupun penyakit lain seperti reumatik, ataupun memang bentuk daripada lutut yang berbeda-beda pada seseorang,” ujar Ihsan.
Diagnosis Penting Dilakukan Sejak Dini
Baik osteoartritis primer maupun sekunder dapat menimbulkan gejala serupa, seperti nyeri, kekakuan sendi, dan penurunan fungsi fisik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Karena itu, penting untuk mengetahui penyebab dan jenis osteoartritis yang dialami. Diagnosis yang tepat membantu dokter menentukan penanganan sesuai kondisi pasien.
Pada osteoartritis primer, penanganan dapat mempertimbangkan perubahan yang terjadi seiring usia, termasuk faktor hormonal dan gaya hidup. Sementara pada osteoartritis sekunder, dokter perlu melihat faktor pemicu seperti riwayat cedera, penyakit lain, atau kelainan struktur sendi.
Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat sejak awal, gejala osteoartritis dapat dikelola sehingga fungsi sendi dan kualitas hidup pasien tetap terjaga.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336134/original/003861200_1788139537-WhatsApp_Image_2026-08-31_at_08.20.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336363/original/057401500_1788157591-cek_fakta_motor_murah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3335299/original/093154300_1788148519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-31T105456.620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499145/original/048050000_1770777664-tatiana-zanon-MMhazsT2wtM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335317/original/034355800_1787969800-20260828_153842.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322477/original/008625100_1786529634-20260812_115851.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5511197/original/053141400_1771899813-telapak_kaki.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264159/original/087958500_1782096633-Kinesio_taping.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5161658/original/071707900_1741847303-1741841239600_penyebab-asam-urat-tinggi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7009943/original/046167500_1779782010-Dr_EMC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119614/original/001875100_1738589172-Asam_urat_12.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219065/original/005398500_1747205292-WhatsApp_Image_2025-05-14_at_13.39.56_2fa9fce2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1181713/original/044301500_1458803748-Sitting-At-Work.jpg)