Grounding Disebut Bisa Cegah Virus, Pakar: Bukti Ilmiahnya Belum Kuat

Manfaat yang dirasakan ketika melakukan grounding bisa jadi dipengaruhi hal lain.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 12 September 2026, 08:00 WIB
Grounding Alias Berjalan Tanpa Alas Kaki. Foto: Mindandi/Freepik.

Liputan6.com, Jakarta - Grounding atau berjalan tanpa alas kaki di atas tanah atau rumput belakangan ramai dibicarakan sebagai cara alami untuk meningkatkan kekebalan tubuh hingga mencegah infeksi virus. Namun, klaim tersebut belum punya cukup bukti ilmiah untuk dijadikan dasar pencegahan penyakit.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dokter Widya Eka Nugraha, MSiMed, mengatakan grounding memang menimbulkan perubahan potensial listrik ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan Bumi.

Namun, fenomena tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya peningkatan sistem kekebalan tubuh.

Grounding memang dapat mengubah potensial listrik tubuh ketika kulit bersentuhan langsung dengan permukaan Bumi yang konduktif. Namun, fenomena fisika tersebut tidak serta-merta berarti terjadi peningkatan kekebalan tubuh terhadap virus,” papar Widya.

Sejumlah penelitian awal mengindikasikan kemungkinan hubungan grounding dengan stres oksidatif, inflamasi, nyeri, kualitas tidur, dan aktivitas sistem saraf otonom. Meski demikian, penelitian yang ada umumnya masih berukuran kecil, memiliki keterbatasan metodologis, dan belum konsisten direplikasi oleh peneliti independen.

“Temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai bukti pendahuluan, bukan dasar untuk menjadikan grounding sebagai terapi infeksi virus,” tuturnya.

Widya menjelaskan, penting bagi masyarakat membedakan biological plausibility (masuk akal secara biologis) dengan clinical effectiveness (efektivitas klinis).

“Suatu mekanisme dapat masuk akal secara biologis, tetapi efektivitas klinis harus dibuktikan melalui uji klinis acak, kelompok kontrol yang tepat, pengukuran objektif, dan replikasi penelitian,” katanya.

Lebih jauh, secara biologis, kontak kulit dengan permukaan Bumi memungkinkan terjadinya pertukaran muatan dalam jumlah kecil.

Namun, Widya mengatakan, belum terdapat bukti kuat bahwa elektron yang berpindah mencapai jaringan tertentu dalam jumlah cukup untuk bertindak sebagai antioksidan atau mengubah respons imun secara klinis.

Manfaat yang dirasakan ketika melakukan grounding juga dapat dipengaruhi hal lain, seperti aktivitas berjalan, paparan cahaya alami, udara terbuka, relaksasi, suasana alam, maupun efek plasebo.

Apa Benar Grounding Bantu Lawan Virus?

 

Dalam menghadapi virus, lanjut Widya, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks. Sistem imun bawaan mengenali komponen virus dan memicu interferon serta sitokin untuk menghambat replikasi.

Sel natural killer dan makrofag turut membantu membatasi penyebaran infeksi. Selanjutnya, imunitas adaptif bekerja melalui antibodi dari limfosit B serta limfosit T yang mengoordinasikan dan menghancurkan sel terinfeksi. Respons tersebut harus seimbang karena respons terlalu lemah maupun inflamasi berlebihan sama-sama dapat merugikan.

“Belum ada bukti uji klinis berkualitas tinggi bahwa grounding dapat menurunkan risiko tertular virus, viral load, lama infeksi, rawat inap, atau kematian. Jadi, grounding belum dapat direkomendasikan sebagai pencegahan maupun terapi,” jelasnya.

 

Grounding Sebagai Rekreasi

Widya mengatakan bahwa grounding tetap dapat dilakukan sebagai aktivitas rekreasi dan relaksasi selama aman, tetapi bukan pengganti intervensi medis.

“Bagi orang dengan diabetes, gangguan saraf kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, grounding dengan aktivitas tanpa alas kaki perlu dilakukan lebih hati-hati. Permukaan harus aman dari benda tajam, panas berlebihan, dan sumber infeksi agar tetap aman,” ucapnya.

Pencegahan infeksi tetap mengandalkan vaksinasi, ventilasi yang baik, kebersihan tangan, etika batuk, penggunaan masker pada situasi berisiko, serta pemeriksaan dan terapi yang sesuai.

Bagi masyarakat perkotaan, menikmati alam dan berjalan santai dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat, tanpa mengaitkannya secara otomatis dengan kemampuan mencegah atau menyembuhkan infeksi virus.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya