Liputan6.com, Jakarta - Salah satu member boygroup, SEVENTEEN, Hoshi yang tengah menjalani wajib militer (wamil) mengalami cedera ACL atau Anterior Cruciate Ligament. Hal tersebut terjadi saat latihan bersama Tim Demonstrasi Taekwondo Angkatan Darat.
"Saya mengalami cedera lutut saat berlatih dengan Tim Demonstrasi Angkatan Darat. Setelah menjalani pemeriksaan, didiagnosis mengalami robekan total pada ligament ACL," jelas Hoshi di laman Weverse SEVENTEEN.
Advertisement
Leader dari unit Performance SEVENTEEN ini mengatakan bakal fokus pada pemulihan dan rehabilitasi setelah menjalani operasi. Ia pun meminta penggemar SEVENTEEN, CARAT, untuk tidak terlalu khawatir akan kondisinya.
Kondisi yang dialami Hoshi jadi bukti bahwa cedera ACL bukan cuma terjadi pada atlet. Siapa saja bisa mengalami cedera ACL.
Cedera ACL adalah robekan pada salah satu ligamen utama penyangga sendi lutut. Ini merupakan salah satu jenis cedera lutut yang paling sering terjadi.
Menurut dokter spesialis ortopedi konsultan sports injury, Christian Silas, cedera ACL terjadi ketika seseorang melakukan perubahan arah yang mendadak atau mendarat dengan posisi yang tidak tepat.
Saat seseorang mengalami cedera ACL, gejala yang dialami pasien umumnya seperti terdengar bunyi “pop” saat kejadian, lutut bergeser, muncul bengkak dalam beberapa jam pertama setelah kejadian, lutut terasa tidak stabil, hingga gerakan lutut yang terbatas.
Silas mengatakan, berdasarkan derajat keparahannya, cedera ACL dibagi menjadi tiga yang bisa dilihat berdasarkan hasil MRI:
- Derajat 1 (Ringan): Serat ligamen mengalami peregangan berlebih, tetapi strukturdasarnya masih cukup stabil dan utuh
- Derajat 2 (Sedang): Robekan parsial atau sebagian pada ligamen. Lutut mulai terasa longgar atau goyah
- Derajat 3 (Berat/Total): Ligamen putus total atau terlepas dari tulang. Lutut kehilangan stabilitas secara total.
Penanganan Cedera ACL
Secara umum, pada cedera ACL derajat 1 dan 2, biasanya dilakukan penanganan non bedah. Namun, pada pasien dengan robekan total atau derajat 3, dan aktif berolahaga atau bergerak dianjurkan untuk tindakan pembedahan atau rekonstruksi ACL.
Rekonstruksi ACL dilakukan dengan prosedur artroskopi, yakni pembedahan minimal invasive menggunakan alat teropong kecil untuk mengganti ligamen yang rusak denganjaringan cangkok (graft), guna mengembalikan stabilitas dan fungsi anatomis sendi lutut.
Sebelum menjalani operasi, pasien biasanya menjalani fisioterapi pra-operasi atauprehabilitasi untuk mempersiapkan kondisi otot dan gerak lutut. Dalam proses rekontruksi, dokter akan mengambil jaringan yang digunakan sebagai cangkok (graft), yang dapat berasal dari jaringan tubuh pasien sendiri (autograft), seperti quadriceps, hamstring, tendon patella, tendon ankle, maupun dari donor luar (allograft).
Selain menggunakan graft dari jaringan tubuh sendiri atau donor, terdapat pula pilihan menggunakan artificial ligament, yaitu ligamen buatan berbahan sintetik dari polietilen khusus yangdipakai untuk menggantikan ligamen asli yang mengalami cedera. Artificial ligament dirancang menyerupai kekuatan mekanik ligamen asli manusia untuk menstabilkan sendi dan mengembalikan mobilitas lutut.
Dokter kemudian membuat saluran kecil (terowongan) pada tulang paha dan tulang kering untuk memasukkan graft baru pada posisi anatomis ACL yang mengalami cedera. Graft kemudian difiksasi atau dikunci pada tulang menggunakan sekrup khusus agar tetap stabil.
Setelah operasi, pasien akan menjalani program fisioterapi intensif selama 6 hingga 9 bulan(atau lebih) untuk membantu memulihkan fungsi gerak dan kekuatan lutut secara total.