Chemophobia, Ketika Takut Bahan Kimia Mengalahkan Fakta Kesehatan

Chemophobia membuat takut bahan kimia dalam makanan. Kenali fakta dan risiko tanpa terjebak ketakutan.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 15 September 2026, 08:00 WIB
Chemophobia membuat seseorang takut berlebihan terhadap bahan kimia dalam makanan. Pahami fungsi, dosis, dan bukti ilmiah agar tidak mudah terpengaruh klaim kesehatan yang viral di media sosial. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Chemophobia atau ketakutan berlebihan terhadap bahan kimia semakin mudah ditemukan di tengah maraknya konten kesehatan di media sosial. Nama bahan yang terdengar asing pada label makanan kerap langsung dianggap berbahaya, meski belum tentu demikian.

Ahli teknologi pangan, Erwin Setiawan, mengatakan, bahan tambahan dan teknologi dalam pengolahan pangan tidak selalu menjadi sesuatu yang perlu ditakuti. Penggunaannya justru dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas dan keamanan makanan.

"Sebagian bahan tambahan justru dirancang sebagai salah satu teknik pengawetan tanpa pengawet tambahan," ujar Erwin Setiawan.

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika masyarakat semakin sering menemukan konten yang menyebut bahan tertentu sebagai 'racun', 'berbahaya', atau dapat 'merusak organ' tanpa menjelaskan fungsi, dosis, maupun batas aman penggunaannya.

Mengapa Chemophobia Mudah Menyebar?

Konten yang menimbulkan rasa takut memang lebih mudah menarik perhatian di media sosial. Ketika seseorang membaca kata seperti 'racun' atau 'berbahaya', respons waspada dapat muncul sebelum dia mencari tahu konteks dan bukti ilmiahnya.

Padahal, kata Erwin, keamanan suatu zat tidak bisa ditentukan hanya dari nama bahan atau istilah kimianya.

Dalam ilmu toksikologi dikenal prinsip the dose makes the poison. Artinya, dosis menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah suatu zat dapat menimbulkan efek berbahaya.

Bahkan, air yang dibutuhkan tubuh dapat menimbulkan masalah jika dikonsumsi dalam jumlah sangat banyak dalam waktu singkat.

Sebaliknya, sejumlah bahan tambahan pangan yang namanya terdengar asing telah memiliki batas penggunaan berdasarkan kajian keamanan.

Media Sosial Memperkuat Ketakutan

Persoalannya, penjelasan ilmiah biasanya membutuhkan konteks, sedangkan konten media sosial sering dikemas singkat dan emosional.

Video yang mengatakan 'makanan ini merusak organ' tentu lebih mudah membuat orang berhenti menggulir layar dibandingkan penjelasan panjang mengenai fungsi suatu bahan dan batas aman penggunaannya.

Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Sciences, MDPI, 2025, menyebutkan, klaim seperti 'bebas bahan kimia' atau '100 persen alami' juga dapat memperkuat chemophobia. Padahal, secara ilmiah, bahan alami pun tersusun atas senyawa kimia.

Oleh sebab itu, istilah 'kimia' tidak otomatis berarti 'berbahaya'. Risiko tetap perlu dilihat berdasarkan jenis zat, dosis, cara paparan, serta bukti ilmiah yang tersedia.

 

 

Ketakutan Bisa Memengaruhi Cara Memilih Makanan

Chemophobia membuat seseorang takut berlebihan terhadap bahan kimia dalam makanan. Pahami fungsi, dosis, dan bukti ilmiah agar tidak mudah terpengaruh klaim kesehatan yang viral di media sosial. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Chemophobia tidak hanya membuat seseorang takut terhadap bahan tertentu. Jika terus terpapar informasi yang menakutkan, lanjut Erwin, seseorang dapat menjadi semakin curiga terhadap makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat membuat seseorang terlalu terobsesi memilih makanan yang dianggap 'bersih', atau bebas dari bahan tertentu.

Alih-alih membantu menjaga kesehatan, pola pikir seperti ini justru berisiko membuat hubungan seseorang dengan makanan dipenuhi kecemasan.

Menghadapi chemophobia bukan berarti mengabaikan risiko kesehatan. Masyarakat justru perlu memahami risiko berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar rasa takut yang muncul dari konten viral.

Sebelum percaya atau menyebarkan informasi, ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa diajukan, seperti 'Apa buktinya?', 'Siapa yang menyampaikan?', 'Apakah sumbernya kredibel? Berapa dosisnya?' atau 'Apakah klaim tersebut didukung penelitian ilmiah?'

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya