Periksa Gigi Berkala, Masalah Bisa Ditemukan Sebelum Sakit

Pemeriksaan gigi secara berkala setiap enam bulan membantu untuk menemukan masalah pada area tersebut lebih dini. Bahkan sebelum rasa sakit datang.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 16 September 2026, 10:00 WIB
ilustrasi pemeriksaan gigi.Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kesehatan gigi dan mulut sebaiknya dilakukan secara rutin enam bulan sekali. Deteksi dini dan pemeriksaan berkala dapat membantu menemukan masalah sejak awal sehingga penanganannya bisa lebih sederhana dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Dokter gigi Melissa Delania, SpPros, mengatakan pemeriksaan gigi secara berkala penting dilakukan bahkan sebelum keluhan muncul.

“Deteksi dini sejak awal sangat di-encourage, sebelum ada keluhan sehingga perawatannya lebih simpel dan masalah bisa dicegah lebih awal,” ujar Dela.

"Jika memang tidak ada masalah pada gigi, dokter akan menyampaikannya," tambah Dela. 

Pemeriksaan gigi direkomendasikan  sekitar enam bulan sekali. Selain memeriksa kondisi gigi, biasanya dilakukan pembersihan karang gigi atau scalling. Hal ini untuk mengatasi plak dan karang gigi yang tidak selalu dapat dibersihkan secara optimal hanya dengan menyikat gigi.

"Pembersihan tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan estetika. Penumpukan plak dan karang gigi dapat mengganggu jaringan penyangga gigi," kata VP Medical Affairs Satu Dental Group ini ditemui di Jakarta pada Selasa (15/9/2026).

Dela mengatakan prinsip menjaga kesehatan gigi dan mulut pada dasarnya sama seperti menjaga kesehatan tubuh secara umum, yakni mencegah sebelum masalah berkembang.

Preventing is always better than treating. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati,” kata dokter gigi lulusan FKG Universitas Indonesia ini. 

Deteksi dini dan perawatan berkala memang dapat membantu mencegah masalah gigi berkembang menjadi lebih serius. Persoalannya, masih banyak orang yang belum menjadikan pemeriksaan gigi sebagai kebutuhan rutin.

 

Tiga Alasan Orang Menunda ke Dokter Gigi

VP Medical Affairs Satu Dental Group, drg Melisa Delania SpPros bersama Satria Situmorang, CEO Satu Dental Group.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 90% masyarakat Indonesia yang mengalami masalah gigi belum mendapatkan perawatan dari tenaga medis profesional. Sekitar 9 dari 10 orang cenderung membiarkan rasa sakit atau melakukan pengobatan mandiri tanpa diagnosis dokter.

Menurut Satria Situmorang, CEO Satu Dental Group, ada beberapa alasan yang membuat masyarakat menunda datang ke dokter gigi.

1. Akses Layanan Belum Merata

Menurut Satria, akses menjadi salah satu kendala, terutama bagi masyarakat di luar kota besar. Di Jakarta, pilihan layanan kesehatan gigi relatif lebih banyak, tetapi kondisi tersebut belum tentu sama di daerah lain.

“Kalau di Jakarta pilihan ada beberapa. Tapi kalau sudah mulai keluar Jakarta, akses terhadap klinik gigi profesional belum rata,” ujar Satria di kesempatan yang sama di Satu Dental Kemang. 

Jarak juga menjadi persoalan ketika perawatan membutuhkan kunjungan berulang. Pasien akan lebih sulit menjalani perawatan berkelanjutan jika harus menempuh perjalanan jauh setiap kali melakukan pemeriksaan atau kontrol.

“Orang Indonesia kalau terlalu jauh jaraknya agak malas, apalagi untuk perawatan berkelanjutan karena butuh komitmen,” katanya.

2. Pertimbangan Biaya

Biaya menjadi pertimbangan lain yang dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan. Ketika belum merasakan keluhan yang mengganggu, masalah gigi kerap dianggap belum mendesak untuk ditangani.

“Kalau ditunggu sakit malah biaya mahal. Dibandingkan sebelum sakit, ada masalah, perawatannya lebih sederhana dan biaya lebih rendah,” ujarnya.

Karena itu, kebiasaan menunggu sampai muncul rasa sakit dapat membuat masalah yang semula masih dapat ditangani lebih sederhana berkembang dan membutuhkan perawatan lebih lanjut.

3. Takut Sakit dan Khawatir soal Kualitas

Rasa takut terhadap tindakan di dokter gigi juga masih menjadi hambatan. Sebagian orang khawatir perawatan akan terasa sakit sehingga memilih menunda pemeriksaan.

Selain itu, ada kekhawatiran mengenai kualitas layanan yang akan diterima. Pasien dapat mempertanyakan apakah tenaga medis di suatu klinik memiliki kemampuan dan standar pelayanan yang sama dengan fasilitas kesehatan yang lebih besar.

“Rasa sakit, kualitas enggak bagus, takut. Oh, apakah dokter gigi yang akan didatangi punya kemampuan yang sama dengan rumah sakit yang besar?” kata Satria.

Menurut Satria, persoalan akses, biaya, serta rasa takut dan kekhawatiran terhadap kualitas tersebut perlu dijawab agar pemeriksaan gigi lebih mudah menjadi bagian dari perawatan kesehatan rutin.

Satria mengatakan perluasan akses menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan dengan membuka layanan di lebih banyak lokasi. Saat ini, ia menyebut Satu Dental memiliki 57 klinik dan berencana terus menambah jaringan tersebut.

Selain jarak, keterjangkauan biaya juga dinilai penting agar masyarakat dapat mengalokasikan pengeluaran untuk pemeriksaan maupun perawatan gigi. Sementara dari sisi kualitas, Satria mengatakan pihaknya menerapkan proses seleksi tenaga medis, standar operasional prosedur, serta penggunaan teknologi untuk menjaga konsistensi pelayanan di berbagai cabang.

Menurutnya, standar tersebut diterapkan agar pasien mendapatkan kualitas pelayanan yang konsisten meski mengunjungi lokasi yang berbeda.

“Keamanan pasien, mau datang ke mana pun, mau ke Kemang, Jakarta Selatan, mau Bekasi, mau Kelapa Gading, Semarang, Surabaya, ke klinik mana pun, kualitas terjaga karena kami menjaga seleksi, menjaga SOP, teknologi, semua dibuat dan didesain dengan tujuan kualitas pelayanan di cabang mana pun,” pungkas Satria.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya