Liputan6.com, Cimahi - BPJS Kesehatan mendorong perubahan pola pelayanan kesehatan menjadi berbasis value. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito mengatakan pendekatan tersebut bukan membatasi layanan kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), melainkan memastikan tindakan medis diberikan sesuai kebutuhan pasien dengan penggunaan biaya yang lebih efisien.
"Ini yang harus saya luruskan. Bahwa value itu berbanding lurus dengan outcome, berbanding terbalik dengan cost. Artinya, kalau pasien bisa sembuh dengan biaya yang minimal, itu adalah value. Nah, caranya tidak semata-mata membatasi, tetapi menegakkan regulasi yang selama ini ada," kata Pujo Prihati dalam temu media pada Rabu (16/9/2026) di RS Dustira Cimahi, Jawa Barat.
Advertisement
Pujo kemudian mencontohkan penerapan pendekatan value-based pada pelayanan penyakit jantung. Salah satunya melalui penggunaan fractional flow reserve (FFR), yakni pemeriksaan untuk membantu menilai apakah penyempitan pembuluh darah koroner benar-benar mengganggu aliran darah dan membutuhkan tindakan lebih lanjut.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengurangi tindakan pemasangan stent atau ring. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan aliran darah terganggu, pasien tetap dapat menjalani tindakan sesuai indikasi medis. Namun, pada kasus serangan jantung pemasangan ring harus dilakukan.
Pria yang juga dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu mengatakan pendekatan tersebut menempatkan kesesuaian tindakan medis sebagai pertimbangan utama, bukan sekadar banyaknya tindakan yang dilakukan.
“Jadi aksi menggunakan FFR ini tidak kita jadikan sebagai itu untuk membatasi. Tetapi kesesuaian daripada yang kita lakukan itu menjadi perspektif,” ujarnya.
Penerapan Pelayanan Value-Based pada JKN Dimulai dari Penyakit Jantung
Pujo mengatakan penerapan pelayanan berbasis value pada layanan JKN akan dilakukan secara bertahap. Pujo mengatakan penyakit jantung menjadi titik awal karena memiliki pengeluaran terbesar pada 2025.
“Kita akan lakukan dengan bertahap. Urgensi jantung itu kebetulan spending yang paling banyak di tahun 2025, kita mulai dari sana. Nanti akan semuanya, katarak, SC (operasi sesar pada ibu hamil). Pelan-pelan,” ujar Pujo.