Begini Cara Pelatih Menjaga Performa Atlet Esports agar Tidak Drop

Begini cara pelatih menjaga performa atlet Esports agar tetap prima dan tidak drop jelang laga.

Diterbitkan 16 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jelang pertandingan besar, atlet Esports bukan hanya dituntut siap secara mental. Kondisi fisik juga harus berada di titik terbaik. Oleh sebab itu, latihan justru mulai dikurangi sekitar dua minggu sebelum kompetisi agar tubuh atlet memiliki waktu untuk pulih dan tampil maksimal saat bertanding.

Pelatih fisik Timnas Esports Indonesia, Coach Yudhi Esa Saputra, menjelaskan, strategi tersebut dilakukan melalui metode unloading. Dalam metode ini, intensitas, frekuensi, dan beban latihan secara bertahap diturunkan menjelang hari pertandingan.

Menurut Yudhi, intensitas latihan tidak bisa terus ditingkatkan hingga mendekati kompetisi. Program latihan harus disusun dengan mempertimbangkan kapan beban latihan dinaikkan dan kapan waktunya diturunkan.

"Kita bikin program, jadi intensitasnya itu kapan kita mau naikin intensitas dan kapan kita mau turun intensitas itu, kita sudah mengatur itu," ujar Yudhi kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela acara 'Optimalisasi Sports Science dan Sinergi Ekosistem Pendukung: Kunci Timnas Esports Indonesia Menuju Asian Games dan Kejuaraan Dunia GEG 2026’ oleh Pengurus Besar Esports Indonesia dan Salonpas di Jakarta pada Selasa (15/9/2026).

Dua minggu sebelum kompetisi atau H-14, tim pelatih fisik mulai mengurangi frekuensi dan volume latihan fisik atlet. Langkah ini dilakukan agar tubuh memiliki waktu untuk melakukan pemulihan (recovery), sekaligus membantu mengantisipasi risiko cedera dan menjaga kesegaran otot.

"Contohnya H-2 minggu, contohnya sekarang kita mulai unloading. Unloading itu artinya beban latihannya, frekuensinya itu mulai kita turunkan. Jadi anak-anak itu bisa menjaga, antisipasi untuk cedera, dan mereka juga bisa fokus terhadap hal-hal di saat bertanding," ujar Yudhi.

Dengan begitu, latihan menjelang pertandingan bukan sekadar soal menambah beban. Tim pelatih juga harus menentukan waktu yang tepat untuk mengurangi latihan agar atlet tidak datang ke arena dalam kondisi kelelahan.

Sports Science Jadi Acuan Kesiapan Atlet

Penentuan kapan intensitas latihan dinaikkan atau diturunkan juga tidak dilakukan berdasarkan perkiraan semata. Tim pelatih menggunakan data sports science untuk memantau kondisi atlet.

Pelatih fisik bersama tim medis melakukan evaluasi berkala terhadap sejumlah indikator fisik, termasuk komposisi tubuh dan respons denyut jantung atau heart rate.

Data tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat kondisi fisik atlet dan menentukan kesiapan mereka menjelang pertandingan.

"Dari tim sports science itu kan kita punya pengukuran masing-masing. Tentu kalau kapasitas kita di fisik kita melihat dari data yang ada. Dari komposisi tubuhnya, kesiapan dari heart rate-nya itu bagaimana. Itu yang kita ukur kalau dari segi fisik, begitupun di (sisi) psikologis," ujar Yudhi.

Pelatih Ikut Merangkul Atlet

Persiapan menuju pertandingan besar juga tidak selalu berjalan mulus. Kondisi fisik dan emosional atlet dapat mengalami naik turun selama menjalani latihan.

Terlebih, mayoritas atlet Esports yang akan berangkat masih berada pada usia 19 hingga 23 tahun. Rasa malas, jenuh, dan bosan pun bisa muncul ketika mereka harus menjalani latihan secara intensif dalam waktu panjang.

Yudhi mengatakan bahwa pendampingan menjadi bagian penting untuk membantu atlet mempertahankan performa terbaiknya ketika kondisi mereka sedang menurun.

"Pasti yang namanya latihan fluktuatif gitu ya, jadi naik turun. Pasti itu akan terjadi pada atlet. Jadi, itu pentingnya dari tim sport science mendampingi atlet, bagaimana dia tetap di performa terbaiknya," ujar Yudhi.

Pelatih fisik lainnya, Coach Maleaky Patty, mengatakan, pendekatan kepada setiap atlet juga bisa berbeda. Ada atlet yang lebih nyaman bercerita kepada psikolog, tetapi ada pula yang justru lebih terbuka kepada pelatih fisik.

"Masalah pasti ada, tetapi akhirnya ada pendampingan. Contoh ada psikolog, tapi ternyata ada atlet yang lebih suka cerita sama pelatih fisik. Akhirnya kita jadi psikolog juga. Memang bosan itu pasti akan ketemu, tapi kami ya siap merangkul aja semua," pungkasnya.