Liputan6.com, Jakarta - Bayi prematur dan berat lahir rendah membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Namun, keterbatasan fasilitas serta tenaga kesehatan di daerah membuat bayi dengan kondisi tersebut kerap harus dirujuk ke rumah sakit besar.
Di sisi lain, kapasitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) di rumah sakit rujukan juga terbatas. Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di sejumlah rumah sakit rujukan utama bahkan mayoritas berada di atas 90 persen.
Advertisement
Kondisi ini menjadi salah satu alasan RSAB Harapan Kita Jakarta menghadirkan program tele-mentoring untuk dokter dan tenaga kesehatan di daerah.
Program tersebut terintegrasi dengan layanan TeleNICU dan TelePEDIATRICS serta aplikasi konsultasi medis secara daring. Melalui layanan ini, tenaga kesehatan di daerah bisa mendapatkan pendampingan langsung dari tim ahli ketika menangani bayi prematur maupun bayi dengan berat lahir rendah.
Direktur Medik dan Perawatan RSAB Harapan Kita, dr. Endah Citra Resmi, Sp.A(K), mengatakan tele-mentoring memungkinkan dokter spesialis anak dan perawat di rumah sakit daerah tidak harus menghadapi kasus tersebut seorang diri.
Melalui video conference dan berbagai aplikasi, tim ahli dapat memberikan bimbingan teknis serta tata laksana medis secara langsung. Pendampingan dilakukan hingga kondisi bayi, termasuk berat badan, dapat ditingkatkan dan distabilkan di rumah sakit asal.
"Oh dia ternyata kurang dalam menangani bayi berat lahir rendah. Kita akan lakukan pelatihan untuk tata laksana berat badan lahir rendah. Nggak perlu datang ke RSAB, kita lakukan dengan tele-mentoring. Jadi, pakai berbagai aplikasi. Video conference gitu," kata Endah dalam peluncuran Layanan TeleNICU dan TelePEDIATRICS oleh RSAB Harapan Kita di Jakarta pada Rabu (16/9/2026).
NICU Rumah Sakit Rujukan Padat
Endah, mengatakan, selama ini kapasitas NICU di rumah sakit rujukan utama berada dalam kondisi padat. Di RSAB Harapan Kita sendiri, terdapat 22 tempat tidur NICU level 3 yang dilengkapi ventilator dan 32 tempat tidur high care unit.
"Kami NICU di sini punya 22 kasur, itu level 3 dengan ventilator. High care unitnya ada 32, jadi totalnya 54. RSCM atau Fatmawati punya lebih banyak, tapi semua tetap penuh. BOR itu kan okupansi ratenya, mayoritas 90 persen ke atas," katanya.
Oleh sebab itu, tele-mentoring diharapkan dapat membantu mengurangi rujukan yang sebenarnya masih bisa ditangani di rumah sakit daerah.
Dengan adanya pendampingan dari tim ahli, tenaga kesehatan di daerah dapat berkonsultasi dan memperoleh arahan mengenai tata laksana pasien sebelum memutuskan untuk melakukan rujukan.
"Jadi ternyata teman-teman di daerah bisa menjalankan tata laksana di rumah sakit tersebut, tanpa perlu rujuk. Tapi kalau memang, oh iya ini harus dirujuk segera, pasti langsung akan segera dirujuk," tambah Endah.
Tempat Tidur NICU Diprioritaskan untuk Kasus Kompleks
Upaya mengurangi rujukan bukan berarti seluruh bayi prematur atau berat lahir rendah harus ditangani di rumah sakit daerah.
Jika kondisi bayi memang membutuhkan fasilitas dan tindakan medis yang tidak tersedia di rumah sakit asal, rujukan tetap dilakukan.
Dengan demikian, tempat tidur NICU tingkat lanjut dapat diprioritaskan bagi pasien yang membutuhkan pembedahan atau penanganan medis kompleks.
Pendekatan ini juga memungkinkan bayi yang masih dapat ditangani di rumah sakit daerah tidak perlu menjalani proses pemindahan yang berpotensi menambah risiko pada kondisi mereka yang rentan.
Tele-mentoring Jadi Sarana Transfer Ilmu
Program tele-mentoring RSAB Harapan Kita tidak hanya ditujukan untuk membantu penanganan satu pasien. Program ini juga menjadi sarana transfer pengetahuan dan keterampilan bagi tenaga kesehatan di daerah.
Melalui proses pendampingan, dokter dan perawat di rumah sakit daerah diharapkan semakin memiliki kemampuan untuk menangani kasus bayi berat lahir rendah maupun kegawatdaruratan serupa ketika kembali menemukannya di kemudian hari.
"Fasilitas penting, dan harus punya sarana prasarananya. Tapi di sini kami membantu dalam segi kompetensi SDM. Tele-NICU, tele-konsultasi dan tele-mentoring," pungkas Endah.